Aspek inklusivitas juga jadi prioritas utama. Mereka menggunakan ramp di area halte dan lift pada jembatan penyeberangan orang (JPO) untuk memastikan aksesibilitas universal. “Termasuk bagi penyandang disabilitas dan lansia,” imbuh mahasiswa angkatan 2022 ini.
Desain mereka juga merespons iklim tropis Jakarta. Elemen seperti kanopi, perforated panel, dan ventilasi alami berfungsi ganda: melindungi dari panas dan menghadirkan kenyamanan termal. Perforated panel tak cuma fungsional, tapi juga memberi nuansa fasad yang ringan dan transparan.
Di sisi lain, kekayaan budaya Betawi hadir secara subtil namun kuat. Mereka menggunakan pagar langkan khas Betawi, teras, tegel Betawi, serta motif batik Betawi pada perforated panel.
"Elemen-elemen tersebut memperkuat karakter visual halte tanpa mengurangi fungsi utamanya sebagai fasilitas transportasi umum modern," ujar Nabil.
Prestasi ini benar-benar menunjukkan kemampuan mahasiswa ITS dalam merancang solusi arsitektur yang inovatif, responsif terhadap lingkungan, dan yang paling utama, mengutamakan kenyamanan pengguna. Jika desain "Simpul Kota" ini benar-benar direalisasikan oleh Transjakarta pada 2026, karya ini akan menjadi kontribusi nyata mereka dalam membentuk masa depan ruang publik dan transportasi Jakarta yang lebih manusiawi.
Artikel Terkait
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI