Janji Donatur Sirna, Masjid di Gunungkidul Tinggal Reruntuhan

- Rabu, 07 Januari 2026 | 10:36 WIB
Janji Donatur Sirna, Masjid di Gunungkidul Tinggal Reruntuhan

Kehidupan beribadah warga Pedukuhan Gari, Wonosari, Gunungkidul, kini berubah total. Mereka terpaksa menunaikan salat Jumat di musala. Begitu pula dengan salat berjemaah harian semua dialihkan ke musala-musala kecil yang tersebar di kampung itu.

Pusatnya hilang. Satu-satunya masjid di pedukuhan, Masjid Al-Huda, sudah rata dengan tanah. Semua ini bermula dari sebuah janji manis dari seorang donatur. Warga, dengan penuh harap, membongkar tempat ibadah mereka. Tapi setelah bangunan itu rubuh, sang donatur menghilang begitu saja. Tak ada kabar, tak ada realisasi.

Rewang Dwi Atmojo, sesepuh berusia 72 tahun, mengaku semua warga kini salat Jumat di Musala Karim Al Gari.

“Pindah ke Musala Karim Al Gari untuk menampung salat Jumat satu kampung,” ujarnya, Selasa lalu.

Ini bukan perkara sepele. Pedukuhan Gari dihuni sekitar 350 kepala keluarga, total penduduknya mencapai 860 jiwa. Masjid Al-Huda bukan cuma untuk ibadah. Selama puluhan tahun, ia jadi titik kumpul segala kegiatan warga, bahkan acara tingkat desa pun sering digelar di sana.

“Bahkan satu kalurahan kalau ada acara atau kegiatan, masjid ini yang dipakai,” tambah Dwi.

Kisahnya berawal akhir tahun lalu, November 2025. Warga berniat merenovasi masjid tua yang berdiri sejak 1984 itu. Rencana itu kemudian menarik perhatian dua orang. Mereka adalah AS, warga Gatak, dan H, dari Kapanewon Ngawen.

Menurut cerita warga, H-lah yang membawa kabar “gembira”. Katanya, ada yayasan yang bersedia mendanai pembangunan masjid baru. Syaratnya cuma satu: bangunan lama harus dirobohkan dulu.

Dan warga pun tergiur. Masjid dibongkar. Tapi ketika mereka mencoba mengonfirmasi ke yayasan di Tangerang dan tokoh yang disebut-sebut, jawabannya malah bikin kaget. Pihak-pihak itu mengaku tak tahu menahu soal rencana bantuan tersebut.

Cerita dari Pihak "Penghubung"

Di sisi lain, AS yang ternyata bernama Agus Suryanto membantah dirinya punya maksud jahat. Ia mengaku cuma jadi perantara.

“Ada Rp 350 juta dan tolong carikan buat masjid,” kata Agus, menirukan ucapan seorang teman dari Gedangsari yang menanyakan apakah ada masjid butuh bantuan.

Karena di wilayahnya sendiri, Gatak, sudah ada enam masjid yang kondisinya bagus, Agus lalu menghubungi warga Gari. Ia menyampaikan soal dana bantuan itu untuk masjid yang sudah tua.

“Saya ke sana, ngobrol dengan sesepuh di masjid, apakah mau ditindaklanjuti atau tidak,” jelasnya.

Menurut Agus, diskusi waktu itu belum final. Tak lama kemudian, muncullah H dari Ngawen yang menyebut ada yayasan mau bantu. Dalam obrolan, disebutkan yayasan biasanya baru turun tangan jika lahannya sudah kosong atau masjidnya sudah roboh.

“Sepemahaman saya, bukan menyuruh, tetapi… diminta dimusyawarahkan jika ingin diterima,” ucap Agus.

Ia mengakui kemungkinan terjadi miskomunikasi. Soal proses lanjutan dan desain masjid yang sempat jadi masalah, Agus mengaku tidak tahu detailnya.

“Saya hanya menghubungkan dan membantu agar percepatan pembangunan bisa tercapai,” tandasnya.

Misteri yang Berujung Penyesalan

Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, punya cerita serupa. November lalu, dua orang itu datang menemui sesepuh. Mereka janji jadi donatur.

“Dengan syarat masjid dibongkar, kemudian syarat-syarat lain termasuk RAB kami penuhi. Namun di perjalanan ternyata prosesnya lama dan tidak berlanjut,” kata Budi lewat telepon.

Rencana anggarannya tak main-main: Rp 1,8 miliar. Awalnya, komunikasi dengan H masih lancar. Tapi lama-lama, warga merasa ada yang tak beres. Mereka akhirnya mengecek sendiri ke yayasan dan tokoh yang disebut H.

“Memang benar ada yayasan, tetapi belum pernah benar-benar mengacc donasi untuk kami,” ujar Budi.

H kini hilang kontak. Bahkan warga Gari yang ikut dengan H disebut Budi juga jadi korban hanya jadi “tangan kanan” yang tak tahu banyak.

Meski merasa diperdaya, warga memilih jalan damai. Mereka tak akan membawa kasus ini ke pengadilan.

“Kami tidak akan menuntut secara hukum. Biarlah Allah sendiri yang menghukum beliau,” pungkas Budi, menutup percakapan dengan nada pasrah namun getir.

Sekarang, yang tersisa hanya lahan kosong dan harapan yang tertunda. Warga Gari terus beribadah di musala, sambil menunggu keajaiban atau setidaknya, uluran tangan tulus untuk membangun kembali rumah ibadah mereka.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar