Kebijakan pembatasan yang terlalu keras dinilai mengancam lapangan kerja masyarakat desa. "Mereka ini bukan pengusaha besar, tapi rakyat kecil yang menggantungkan hidup dari tembakau," katanya.
Aspek Kultural dalam Budaya Merokok
Selain alasan ekonomi, Rio menilai ada dimensi kultural yang tak bisa diabaikan dalam pembahasan soal rokok. "Kami orang Madura, kami Nahdliyin. Selama kiai saya merokok, saya akan merokok. Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi bagian dari budaya," ujarnya.
Dia juga menyatakan bahwa pembatasan konsumsi rokok tidak serta-merta menurunkan jumlah perokok, bahkan menurutnya justru semakin banyak.
Seruan kepada Pemerintah
Rio menyerukan agar pemerintah bersikap tegas dan berpihak pada keberlangsungan industri hasil tembakau. "Dukung industri rokok selama bisa menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Jangan setengah hati," tegas Bupati Situbondo tersebut.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Terapkan WFH Jumat, ASN Pelayanan Publik Tetap Wajib ke Kantor
Indonesia Kutuk Serangan ke Pasukan Perdamaian di Lebanon, Desak PBB Selidiki Israel
PMI Manufaktur Indonesia Melambat Drastis ke 50,1 pada Maret 2026, Dampak Perang Timur Tengah
Harga Emas Antam Naik Rp75.000, Buyback Melonjak Rp110.000