132 Tewas! Operasi Polisi vs Geng Narkoba Paling Berdarah di Brasil Bikin Presiden Ngeri

- Kamis, 30 Oktober 2025 | 12:00 WIB
132 Tewas! Operasi Polisi vs Geng Narkoba Paling Berdarah di Brasil Bikin Presiden Ngeri

Baku Tembak Polisi dan Geng Narkoba di Brasil Tewaskan 132 Orang, Presiden: Saya Ngeri

Operasi polisi Brasil di Rio de Janeiro berakhir dengan korban jiwa yang sangat besar. Data lembaga bantuan hukum setempat menyatakan 132 orang tewas dalam baku tembak antara polisi dan geng narkoba Comando Vermelho pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Kepolisian Brasil melaporkan angka korban yang sedikit berbeda, yakni 119 orang tewas. Operasi penggerebekan kartel narkoba ini disebut-sebut sebagai yang paling berdarah dalam sejarah Brasil. Jumlah korban tewas ini mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat dari informasi awal yang menyebutkan 60 orang.

Sebagian besar korban tewas adalah anggota geng. Seorang pejabat kepolisian Rio mengonfirmasi bahwa dari total korban, 115 di antaranya adalah anggota geng narkoba dan 4 lainnya adalah polisi.

Victor Santos, pejabat keamanan Negara Bagian Rio de Janeiro, mengaku tingginya angka kematian sudah diperkirakan, meski tidak diharapkan. Operasi besar-besaran ini melibatkan sekitar 2.500 personel polisi yang dipusatkan di kawasan utara Rio, yaitu Penha dan Alemao.

Menteri Kehakiman Brasil, Ricardo Lewandowski, mengungkapkan respons Presiden Luiz Inacio Lula da Silva. Presiden Lula menyatakan rasa ngeri dan keprihatinan mendalam atas jumlah korban tewas yang sangat banyak dalam operasi yang dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah pusat ini.

Di sisi lain, Gubernur Rio, Claudio Castro, bersikeras bahwa semua yang tewas dalam operasi tersebut adalah penjahat. Ia mengklaim baku tembak terjadi di daerah hutan yang kemungkinan besar tidak dihuni warga sipil, sehingga meminimalisir korban dari masyarakat umum.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar