Utang Luar Negeri Indonesia Tembus USD444,4 Miliar pada Mei 2026, Tumbuh 2,1 Persen

- Rabu, 15 Juli 2026 | 12:00 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus USD444,4 Miliar pada Mei 2026, Tumbuh 2,1 Persen

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai USD444,4 miliar, tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 2,0 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pertumbuhan ULN dipengaruhi oleh peningkatan utang publik di tengah kontraksi utang swasta yang lebih rendah. "Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/7/2026).

Posisi ULN pemerintah pada Mei 2026 tercatat sebesar USD217,3 miliar, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Denny menjelaskan, perkembangan ini terutama dipengaruhi oleh aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Di sisi lain, pemerintah juga melakukan pembayaran neto pinjaman luar negeri yang jatuh tempo.

Pemerintah berkomitmen menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang tepat waktu. ULN dikelola secara pruden, terukur, dan fleksibel untuk mewujudkan pembiayaan yang efisien dan optimal. Sebagai instrumen pembiayaan APBN, ULN pemerintah diarahkan untuk mendukung program prioritas, menjaga keberlanjutan fiskal, dan memperkuat perekonomian nasional.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah paling banyak digunakan untuk sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22,0 persen), administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,6 persen), jasa pendidikan (16,2 persen), konstruksi (11,5 persen), serta transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

Peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Langkah ini sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Sementara itu, ULN swasta melanjutkan kontraksi. Posisi ULN swasta pada Mei 2026 tercatat sebesar USD195,9 miliar, atau kontraksi 0,1 persen secara tahunan. Kontraksi ini lebih terbatas dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,5 persen. Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ULN kelompok peminjam lembaga keuangan yang mencatat kontraksi 0,8 persen secara tahunan, lebih rendah dari kontraksi April 2026 yang mencapai 5,0 persen.

Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Pangsa keempat sektor itu mencapai 79,9 persen dari total ULN swasta. ULN swasta tetap didominasi utang jangka panjang dengan pangsa 74,9 persen.

Struktur ULN Indonesia secara keseluruhan tetap sehat. Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) turun menjadi 29,9 persen pada April 2026, dengan dominasi utang jangka panjang mencapai 83,9 persen dari total ULN.

Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN akan dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags