Fasilitas akumulasi kuota data atau rollover mulai dipandang sebagai salah satu jawaban industri telekomunikasi di tengah polemik kuota internet hangus yang sidangnya sedang bergulir di Mahkamah Konstitusi (MK). Sejumlah ahli teknologi digital menilai skema ini memberi fleksibilitas lebih besar kepada pelanggan sekaligus membuka peluang operator membangun kepercayaan jangka panjang.
Perdebatan kuota hangus mencuat setelah dua penggugat, yang bekerja sebagai pengemudi ojek online dan pengusaha kuliner online, melayangkan gugatan ke MK. Mereka menilai kuota internet yang sudah dibayar semestinya tidak otomatis hilang ketika masa aktif berakhir, apalagi jika belum digunakan sepenuhnya.
Di tengah perdebatan tersebut, industri telekomunikasi mulai menawarkan paket rollover sebagai jalan tengah antara perlindungan konsumen dan keberlanjutan bisnis operator. Melalui skema ini, sisa kuota utama dari periode sebelumnya dapat dibawa ke periode berikutnya dan digabungkan dengan paket baru, sehingga tidak langsung hangus.
Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O. Baasir, mengatakan fitur rollover ini pada dasarnya bukan konsep baru. Sejumlah operator sudah lebih dulu menyediakan skema tersebut dan hal itu juga telah disampaikan dalam sidang di MK.
“Paket rollover-nya sudah tersedia sekarang. Jadi, yang disampaikan di sidang MK kemarin, memang yang saat ini sudah ada,” kata Marwan.
Kendati begitu, keberadaan paket rollover saat ini masih bergantung pada kebutuhan dan respons pasar. Jika permintaan pengguna meningkat, pengembangan skema tersebut bisa dipertimbangkan lebih lanjut. Marwan juga menyebut, tantangan saat ini bukan lagi soal ketersediaan produk, melainkan bagaimana operator meningkatkan komunikasi kepada pelanggan agar pilihan paket seperti rollover lebih mudah dipahami dan ditemukan.
Kata Ahli soal Akumulasi Kuota (Rollover)
Peneliti Center of Digital Economy and SMEs INDEF, Fadhila Maulida, menilai gugatan kuota hangus tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan konsumsi internet rumah tangga. Bagi sebagian kelompok seperti pengemudi ojek online dan UMKM digital, kuota internet sudah menjadi bagian dari biaya operasional. Ia mengibaratkan kuota internet seperti bahan bakar bagi pengemudi atau bahan baku bagi pedagang. Ketika kuota hangus sebelum digunakan seluruhnya, dampaknya tidak sekadar kehilangan uang belanja, tetapi menjadi biaya produksi yang sudah dibayar namun tidak menghasilkan manfaat.
Dampak ini mungkin terlihat kecil jika dilihat dari nominal per individu. Namun, bagi pelaku ekonomi mikro dengan margin keuntungan yang semakin tipis, akumulasi biaya yang terus berulang bisa menggerus pendapatan bersih. Selain itu, model penggunaan paket kuota use-it-or-lose-it juga membuat penggunaan internet menjadi kurang fleksibel, terutama bagi pelaku usaha yang pendapatannya tidak selalu stabil.
Di sisi lain, konsep rollover dapat menjadi kompromi yang cukup rasional antara hak konsumen dan kebutuhan operator menjaga bisnis. Namun, keadilan dari skema tersebut tetap bergantung pada detail implementasi. Menurut Fadhila, ada sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab, termasuk berapa lama sisa kuota bisa dibawa ke periode berikutnya, apakah ada batas akumulasi, apakah kuota lama dipakai lebih dulu, hingga apakah paket rollover dijual lebih mahal dibanding paket reguler.
“Dari sisi konsumen, rollover penting karena bisa mengembalikan sebagian nilai ekonomi yang sudah dibayar,” ujarnya.
Di sisi lain, operator juga menghadapi realitas bahwa industri telekomunikasi merupakan sektor padat modal yang membutuhkan investasi besar untuk menjaga kapasitas dan kualitas jaringan. Karena itu, desain produk menjadi kunci agar keseimbangan tetap terjaga.
Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute, Heru Sutadi, menilai paket kuota akumulasi merupakan langkah positif dan layak diapresiasi karena memberikan fleksibilitas pembelian paket kuota kepada pelanggan.
“Kuota internet adalah layanan yang sudah dibayar di muka sehingga wajar jika konsumen berharap sisa kuota yang belum terpakai tidak langsung hangus,” kata Heru.
Menurutnya, rollover semestinya hadir sebagai salah satu pilihan paket, bukan kewajiban untuk seluruh produk operator. Heru juga menepis anggapan bahwa kuota rollover akan membebani operasional operator atau mengganggu pembangunan jaringan di wilayah tertinggal.
“Rollover pada dasarnya hanya memberikan fleksibilitas waktu bagi konsumen untuk menghabiskan kuota yang memang sudah dibeli, bukan menambah jumlah kuota secara gratis,” ujar Heru.
Fadhila menambahkan, pendekatan hybrid, di mana konsumen bisa memilih paket rollover atau non-rollover, berpotensi menjadi model paling realistis. Pengguna dengan konsumsi data stabil bisa memilih paket reguler yang lebih murah, sementara pengguna dengan pola penggunaan tidak menentu dapat memilih rollover untuk mengurangi risiko kuota hangus. Namun, ia mengingatkan satu syarat penting, yakni transparansi. Operator perlu menampilkan informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami, mulai dari harga efektif per GB, label rollover atau non-rollover, masa berlaku, hingga konsekuensi penggunaan.
“Kalau informasi tidak jelas, pilihan yang terlihat banyak justru bisa menjadi pilihan semu bagi konsumen,” kata Fadhila.
Perdebatan soal kuota hangus belum berakhir. Namun, kemunculan paket rollover menunjukkan bahwa industri mulai mencari titik temu antara ekspektasi pengguna dan kebutuhan menjaga investasi jaringan yang selama ini menjadi fondasi layanan telekomunikasi.
Artikel Terkait
Puan Hormati Putusan MK yang Tegaskan Pilkada Langsung
Kemnaker Apresiasi Putusan MK yang Perkuat Hak Pekerja atas Pesangon dan Dana Pensiun
MK Kabulkan Sebagian Uji Materi UU P2SK, Manfaat Dana Pensiun Sukarela Bisa Dicairkan Sekaligus
MK Beri Waktu Dua Tahun untuk Copot Rangkap Jabatan Wakil Menteri di BUMN