Pemerhati politik dan kebangsaan Rizal Fadhillah kembali menyoroti polemik dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo. Dalam rilis yang diterima pada Selasa (30/6/2026), ia menilai perdebatan justru semakin menguat di tengah masyarakat karena hingga kini belum ada pembuktian yang mampu mengakhiri keraguan.
Rizal menyatakan keyakinannya bahwa dugaan kepalsuan ijazah semakin dipercaya publik. "Palsu, palsu, dan palsu semakin yakin publik. Berputar-putar dan berjanji-janji terus adalah sinyal kepalsuan," katanya.
Menurutnya, jika ijazah Jokowi benar-benar ada dan asli, polemik seharusnya dapat diselesaikan dengan cara sederhana: memperlihatkan dokumen asli kepada publik untuk diuji secara terbuka. "Logika sehat menyatakan jika ijazah Jokowi ada dan asli, tidak perlu buang waktu, buang duit, dan merusak kepercayaan dengan segera saja menunjukkan dan membebaskan siapa pun untuk mengujinya. 'Gitu aja repot', kata Gus Dur," ujarnya.
Rizal juga menyinggung pernyataan Jokowi yang pernah menyebut akan membawa ijazah dari tingkat SD hingga perguruan tinggi dalam proses persidangan. Menurut dia, langkah yang lebih tepat justru memperlihatkan ijazah tersebut kepada masyarakat luas. "Lebih baik membawa dan perlihatkan ijazah itu ke seluruh Indonesia. Hebat dan manfaat," tambahnya.
Ia mengkritik berbagai aktivitas yang dinilainya tidak berkaitan dengan pembuktian keaslian ijazah. "Tidak harus berlindung klenik injak kepala kerbau segala. Hina dan sia-sia. Dikira ijazah palsu dapat berubah menjadi asli setelah injak kepala kerbau?" tegas Rizal.
Penegak Hukum dan UGM Disorot
Rizal menyoroti hasil penanganan aparat penegak hukum terhadap perkara tersebut. Menurutnya, penyelidikan yang pernah dilakukan belum memberikan kepastian. "Palsu tetap palsu. Bareskrim yang pernah menghentikan penyelidikan dahulu tidak mampu memastikan ijazah Jokowi itu asli. Identik bukan otentik. Identik dengan yang palsu ya palsu," katanya.
Ia juga berpendapat Polda Metro Jaya belum secara terbuka menyampaikan hasil uji forensik yang dapat menjawab perdebatan. Selain itu, Universitas Gadjah Mada (UGM) dinilai belum memberikan penjelasan memuaskan. "Sementara UGM sang pabrik hanya bisa berdalih bahwa dokumen tidak dalam penguasaan dan ulur waktu melawan putusan KIP lewat gugatan PTUN," ujarnya.
Rizal menyinggung penjelasan Rektor UGM mengenai status akademik Jokowi. "Rektor Ova binaan mantan Rektor Pratikno cuap-cuap belepotan tentang status Jokowi. Samar antara lulusan dengan pernah kuliah di UGM," kata Rizal. Menurutnya, UGM juga belum memberikan penjelasan mengenai dokumen yang digunakan dalam pencalonan Jokowi sebagai Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden RI.
Legalisir Salinan Ijazah Dipertanyakan
Rizal menyoroti legalisasi salinan ijazah yang pernah ditunjukkan penyelenggara pemilu. "Anehnya legalisir salinan atau fotokopi ijazah yang ditunjukkan KPUD Surakarta, KPUD DKI, dan KPU Pusat semua berstempel UGM dan ditandatangani Dekan Fakultas Kehutanan," katanya. Ia mengutip keterangan dalam persidangan sengketa Keterbukaan Informasi Publik (KIP) bahwa UGM menyatakan tidak pernah menerima permohonan legalisir dan tidak memiliki arsip pertinggal, serta tidak pernah ada permohonan verifikasi faktual dari KPU.
Berdasarkan fakta tersebut, Rizal menyimpulkan bahwa salinan ijazah yang digunakan dalam pencalonan Jokowi merupakan dokumen palsu. "Akhirnya tersimpulkan bahwa salinan fotokopi ijazah Jokowi dengan legalisir palsu yang digunakan sebagai syarat untuk menjadi Wali Kota, Gubernur, dan Presiden adalah dokumen palsu," tegasnya. Menurutnya, jika kesimpulan itu terbukti benar, maka akan berdampak pada keabsahan jabatan yang pernah diemban Jokowi. "Akibatnya Jokowi sesungguhnya tidak memenuhi syarat dan tidak sah baik sebagai Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI, maupun Presiden RI," ujarnya.
Di akhir rilisnya, Rizal menyampaikan kritik keras. "Jokowi perlu dinobatkan oleh bangsa Indonesia dan masyarakat dunia sebagai Wali Kota, Gubernur, dan Presiden palsu. Perlu dibuat patung monumen kehinaan bangsa dan rakyat Indonesia," katanya. Ia menutup pernyataan dengan kalimat satiris: "Tragedi mengenaskan baru saja terjadi: injak kepala kerbau, abracadabra ijazah palsu jadi asli. Abracadabra!"
Artikel Terkait
KPK Kembali Periksa Eks Menpora Dito Ariotedjo sebagai Saksi Korupsi Kuota Haji
Puan Minta Evaluasi Menyeluruh Usai Lima Peserta Latihan Kemiliteran Meninggal
IHSG Anjlok 2,42% pada Sesi I, Tertekan Aksi Jual di Banyak Sektor
Bulog Buka Gudang untuk Edukasi Mahasiswa UGM, Stok Beras Tertinggi Sepanjang Sejarah