Serangan Amerika Serikat terhadap Iran memasuki hari kedua, Minggu (28/6/2026), meredupkan prospek gencatan senjata yang baru disepakati dua pekan lalu. Komando Pusat Militer AS (Centcom) mengumumkan serangan ke sejumlah wilayah Iran di dekat Selat Hormuz pada Sabtu sebagai balasan atas serangan drone Iran terhadap kapal tanker berbendera Panama.
"Iran memiliki kesempatan untuk menghormati perjanjian gencatan senjata tetapi memilih untuk tidak melakukannya," kata Centcom di media sosial. Menurut Centcom, serangan Iran sebelumnya menghantam M/T Kiku, kapal tanker berbendera Panama yang tengah melintas di dekat Selat Hormuz dengan membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah. Televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan di utara Selat Hormuz.
Eskalasi dimulai ketika Iran menyerang kapal kargo M/V Ever Lovely berbendera Singapura pada Kamis karena dianggap melintasi Selat Hormuz tanpa koordinasi dengan Teheran. Sejak itu, kedua negara saling bertukar serangan. Padahal, sekitar dua pekan sebelumnya Washington dan Teheran menandatangani nota kesepahaman perdamaian yang mencakup gencatan senjata 60 hari dan pembukaan Selat Hormuz.
Iran bersikukuh kapal-kapal tetap harus berkoordinasi dengan Teheran setelah selat dibuka, sementara AS mendorong kapal melintas melalui perairan Oman. Wakil Presiden AS JD Vance, yang memimpin negosiasi dengan Iran, menegaskan di media sosial pada Jumat bahwa Iran seharusnya berkomunikasi jika ada perbedaan pendapat. "Kekerasan akan dibalas dengan kekerasan," ujarnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Hadiri Resepsi Pernikahan Putri Ketua KPK
AS Rilis Paspor Edisi Terbatas Bergambar Trump untuk HUT ke-250
Kemenag Cabut Izin Ponpes Ibadurrahman di Kukar Buntut Kekerasan Seksual
Pasokan Batu Bara ke Pembangkit Dipantau Ketat untuk Cegah Pemadaman Bergilir