Senator Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Chris Murphy, menilai pemerintahan Donald Trump kalah dalam perang melawan Iran. Menurutnya, konflik yang berkepanjangan justru membuat AS semakin lemah, sementara Iran semakin kuat.
“Amerika lebih lemah, Iran lebih kuat,” kata Murphy dalam wawancara dengan NBC, Rabu (12/8/2026).
Murphy secara terbuka mengkritik kebijakan perang yang dijalankan pemerintahan Trump. Ia menegaskan bahwa semakin lama perang berlangsung, semakin tidak menguntungkan posisi Washington. Bahkan, ia khawatir Trump pada akhirnya terpaksa menerima hasil negosiasi yang merugikan kepentingan AS demi mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
“Perang harus diakhiri karena setiap hari berlanjut, Amerika semakin lemah, Iran semakin kuat, dan warga AS dirugikan karena harga terus naik,” ujar Murphy.
Menurut Murphy, dampak perang tidak hanya dirasakan militer AS, tetapi juga masyarakat. Konflik yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan beban ekonomi warga Amerika, terutama ketika gangguan terhadap Selat Hormuz ikut memengaruhi harga energi.
Tolak Anggaran Perang Tambahan
Murphy menegaskan akan menentang usulan anggaran tambahan yang ditujukan untuk melanjutkan perang melawan Iran. Namun, ia tetap mendukung pengisian kembali persediaan amunisi militer AS setelah konflik berakhir. Menurutnya, kebutuhan untuk memulihkan stok persenjataan berbeda dengan memberikan tambahan dana untuk memperpanjang peperangan.
Sikap tersebut menunjukkan kekhawatiran Murphy terhadap biaya yang harus ditanggung AS jika konflik terus berlanjut tanpa kepastian penyelesaian.
Iran Beri Syarat Selat Hormuz Dibuka
Di tengah tekanan untuk mengakhiri perang, Iran telah memberikan sejumlah syarat kepada AS agar Selat Hormuz kembali dibuka. Para pejabat Iran meminta AS membayar ganti rugi atas perang, mencabut sanksi terhadap Iran, serta menghentikan operasi militer.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial dalam konflik karena merupakan jalur strategis bagi lalu lintas energi dunia. Ketidakpastian mengenai pembukaannya dapat meningkatkan tekanan terhadap harga energi dan menambah beban ekonomi.
Murphy menilai situasi tersebut semakin memperkuat alasan agar perang segera dihentikan. Sebab, semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula biaya yang harus ditanggung AS dan warganya.
Sementara itu, Iran dinilai justru semakin kuat ketika perang berlangsung lebih lama. Bagi Murphy, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa strategi perang pemerintahan Trump tidak menghasilkan keuntungan yang diharapkan bagi AS.
Artikel Terkait
Harga Minyak Kembali Menguat, Kekhawatiran Pasokan Timur Tengah Masih Berlanjut
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Selat Hormuz Kembali Menekan Pasar
Trump Klaim AS Kuasai Penuh Selat Hormuz dan Bersihkan Ranjau Iran
Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.861