AS Serang Gudang Rudal Iran di Pesisir Selatan, Garda Revolusi Balas Serang Instalasi Militer AS

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 11:15 WIB
AS Serang Gudang Rudal Iran di Pesisir Selatan, Garda Revolusi Balas Serang Instalasi Militer AS

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke titik-titik penyimpanan rudal dan drone milik Iran. Serangan balasan pun tak terhindarkan. Eskalasi ini dipicu oleh insiden penembakan drone Iran terhadap sebuah kapal kargo komersial berbendera Singapura, Ever Lovely, pada Kamis (25/6/2026).

Peristiwa itu langsung mendapat respons keras dari Presiden AS Donald Trump. Dalam pernyataannya pada Jumat, Trump menyebut insiden tersebut sebagai "pelanggaran bodoh" terhadap sebuah memorandum yang sebelumnya disepakati. Kesepakatan itu sejatinya dirancang untuk menciptakan masa tenang selama 60 hari, di mana Iran diwajibkan untuk berupaya semaksimal mungkin memungkinkan kapal-kapal komersial melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan biaya.

Namun, gencatan senjata yang sudah rapuh itu kian sulit dipertahankan. Israel terus melanjutkan bombardirnya ke Lebanon, sebuah langkah yang dinilai melanggar ketentuan dalam memorandum tersebut. Sebagai respons atas serangan di Lebanon, Iran pekan lalu mengumumkan akan kembali menutup Selat Hormuz sebuah jalur strategis yang sejak awal konflik dengan AS dan Israel telah ditutup, menyebabkan lonjakan harga bahan bakar, pupuk, dan berbagai barang kebutuhan pokok lainnya.

Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, mengonfirmasi telah mengeluarkan respons militer yang kuat. "Pesawat AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai," demikian bunyi pernyataan resmi CENTCOM. Serangan dilaporkan terjadi di dekat pelabuhan Sirik, yang berada di wilayah selatan Iran.

Tidak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) segera membalas. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita pemerintah IRNA, IRGC mengaku telah melancarkan serangan terhadap instalasi militer AS di kawasan tersebut. Mereka juga melontarkan peringatan keras. "Jika agresi berulang terjadi, tanggapan kami akan lebih luas dari ini," demikian bunyi pernyataan IRGC.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags