Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa Indonesia memiliki momentum bersejarah untuk tidak lagi sekadar dikenal sebagai negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia, melainkan sebagai negara yang berhasil memanfaatkannya secara nyata. Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi pembicara dalam South East Asia Climate Forum yang merupakan bagian dari rangkaian London Climate Action Week.
Dalam forum yang dihadiri para pemangku kepentingan global di bidang iklim dan energi tersebut, Eddy merefleksikan perjalanan panjang Indonesia di sektor energi terbarukan. Ia mengungkapkan bahwa lebih dari dua dekade lalu, saat masih berkarier di dunia perbankan, dirinya pernah menghadiri sebuah konferensi yang menyebut Indonesia sebagai negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia.
“Yang menarik sekaligus menjadi tantangan bagi kita adalah, 25 tahun kemudian Indonesia masih disebut sebagai negara dengan potensi energi terbarukan terbesar di Asia. Artinya, potensi yang luar biasa tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal,” ujar Eddy dalam keterangannya, Sabtu (27/6/2026).
“Bagi saya, saat ini adalah momentum bagi Indonesia untuk tidak hanya dikenal karena potensinya, tetapi juga karena keberhasilannya memanfaatkan energi terbarukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan berkelanjutan,” imbuhnya.
Menurut Anggota Komisi XII DPR RI ini, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan transisi energi dan aksi iklim sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai kebijakan strategis yang dirancang untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, ketahanan energi, dan pengurangan emisi karbon.
“Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2028. Pada saat yang sama, kami berkomitmen memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus melakukan dekarbonisasi ekonomi untuk mencapai target Net Zero Emissions pada tahun 2060 atau bahkan lebih cepat,” jelasnya.
Eddy menegaskan bahwa dekarbonisasi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan juga strategi ekonomi nasional. Sebagai wujud keseriusan, Indonesia menargetkan pembangunan kapasitas pembangkit energi terbarukan hingga 70 gigawatt pada tahun 2040. Dengan pencapaian tersebut, bauran energi terbarukan nasional diharapkan meningkat dari sekitar 15–16 persen saat ini menjadi lebih dari 35 persen.
“Target ini menunjukkan bahwa Indonesia sepenuhnya serius dalam menjalankan transisi energi. Kami memahami bahwa masa depan pertumbuhan ekonomi yang kuat harus dibangun di atas fondasi energi yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Eddy juga memaparkan perkembangan kebijakan dan legislasi yang tengah disiapkan untuk mendukung agenda transisi energi dan aksi iklim. Saat ini, pembahasan Undang-Undang Energi Terbarukan telah memasuki tahap akhir. Selain itu, DPR RI juga tengah membahas Rancangan Undang-Undang Aksi Iklim yang akan menjadi regulasi pertama di Indonesia yang secara khusus mengatur isu perubahan iklim secara komprehensif.
Tidak hanya itu, pemerintah dan DPR berencana melakukan revisi terhadap Undang-Undang Ketenagalistrikan guna memastikan kerangka regulasi nasional semakin selaras dengan kebutuhan transisi energi yang sedang berlangsung.
“Indonesia sedang membangun fondasi kebijakan yang kuat agar transformasi menuju ekonomi hijau dapat berjalan lebih cepat, memberikan kepastian bagi investor, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan sosial yang luas bagi masyarakat,” tutup Waketum PAN ini.
Artikel Terkait
Polda Metro Bongkar Aplikasi HOT51, Perputaran Uang Haram Capai Rp 559,8 Miliar
Bareskrim Ungkap Peran Empat WNI dalam Sindikat Judi Online Hayam Wuruk
Empat Destinasi Wisata Keluarga di Dataran Tinggi Kopeng, Jawa Tengah
29 Juni Peringati Hari Tropis Internasional, Soroti Tantangan dan Peluang Negara Tropis