Pemerintah berencana mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan nasional. Langkah ini diambil untuk memperkuat likuiditas dan menjaga laju pertumbuhan kredit tetap di kisaran yang ditargetkan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan rencana tersebut, yang sekaligus menandai perubahan arah kebijakan. Sebelumnya, Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Astera Primanto Bhakti menyatakan bahwa pemerintah tengah menarik dana SAL yang ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) secara bertahap. Saat ini, dana SAL yang sudah ditempatkan di Himbara mencapai sekitar Rp200 triliun untuk penempatan jangka panjang.
Pemerintah berencana menambah Rp100 triliun dengan tenor tiga hingga empat bulan. Selain itu, akan ada tambahan Rp100 triliun lagi melalui skema yang lebih fleksibel. Dengan demikian, total penempatan SAL di Himbara berpotensi meningkat menjadi sekitar Rp400 triliun.
Purbaya mengatakan, tambahan likuiditas ini ditujukan untuk menjaga pertumbuhan kredit perbankan nasional pada kisaran 14 hingga 15 persen secara tahunan sepanjang 2026. Tanpa tambahan dana itu, pertumbuhan kredit diperkirakan melambat hingga di bawah realisasi Mei 2026 yang mencapai 11,51 persen secara tahunan.
Kebijakan ini dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap pengetatan likuiditas. Sebab, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir, di tengah masih tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selain itu, rasio pinjaman terhadap simpanan (loan-to-deposit ratio/LDR) bank-bank Himbara juga relatif tinggi hingga Mei 2026 seiring pertumbuhan kredit yang kuat. Kondisi tersebut membuat ruang likuiditas perbankan menjadi lebih terbatas. Dengan tambahan penempatan SAL, tekanan terhadap biaya dana (cost of fund/CoF) diperkirakan dapat berkurang.
Stockbit pada Jumat (26/6/2026) menilai, kondisi ini menjadi sentimen positif bagi saham-saham bank berkapitalisasi besar, khususnya Himbara. Pasalnya, tambahan likuiditas mampu menopang net interest margin (NIM) di tengah terbatasnya ruang kenaikan suku bunga kredit akibat ketatnya persaingan di segmen korporasi serta belum pulih optimalnya permintaan kredit dari sektor konsumer dan UMKM.
Sentimen positif tersebut langsung tercermin pada pergerakan saham perbankan pada perdagangan Jumat (27/6/2026). Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sempat menguat 2,3 persen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 2,1 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menguat 2,8 persen, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) bertambah 1,8 persen.
Artikel Terkait
Mantan Istri Taufik Hidayat Buka Suara: Pernikahan Hanya Bertahan Dua Minggu
Korban Tewas dalam Pelatihan Militer Program SPPI Bertambah Jadi Lima Orang
Polisi Tetapkan Pria Berinisial FP sebagai Tersangka Penganiayaan Caddy Golf di Tangerang
AS Serang Gudang Rudal Iran di Pesisir Selatan, Garda Revolusi Balas Serang Instalasi Militer AS