Pertama dalam Sejarah: Portugal vs Uzbekistan, Dua Tim yang Tak Pernah Sekali Pun Bertemu

- Selasa, 23 Juni 2026 | 20:54 WIB
Pertama dalam Sejarah: Portugal vs Uzbekistan, Dua Tim yang Tak Pernah Sekali Pun Bertemu

Untuk pertama kalinya dalam sejarah sepak bola, Portugal dan Uzbekistan saling berhadapan. Tidak ada rekor head-to-head, tidak ada dendam lama, tidak ada satu pun catatan pertemuan. Justru di situlah letak ceritanya.

Ada satu fakta yang membuat duel Portugal melawan Uzbekistan di Grup K Piala Dunia 2026 terasa berbeda dari kebanyakan laga besar: tidak ada apa pun yang bisa diceritakan dari masa lalu kedua tim. Bukan karena penulis kekurangan data, melainkan karena datanya memang tidak pernah ada. Sampai peluit kick-off di NRG Stadium, Houston, dibunyikan, Portugal dan Uzbekistan tercatat belum pernah sekali pun bertemu di level tim senior baik di laga resmi maupun uji coba.

Maka pertandingan ini bukan sekadar babak baru dalam sebuah rivalitas. Ia adalah halaman pertama dari buku yang sama sekali masih kosong.

Mengapa dua tim ini tidak pernah berjumpa?

Jawabannya terletak pada geografi sepak bola, bukan kebetulan semata. Portugal adalah penghuni tetap zona Eropa (UEFA), salah satu kekuatan mapan benua yang nyaris tak pernah absen dari turnamen besar. Uzbekistan, sebaliknya, baru berdiri sebagai entitas sepak bola merdeka pada 1992 dan menjadi anggota FIFA pada 1994 setelah pecahnya Uni Soviet. Sejak itu, Uzbekistan berkiprah di zona Asia (AFC).

Dua konfederasi yang berbeda ini praktis hanya bisa dipertemukan di satu panggung: Piala Dunia. Dan di situlah persoalannya. Sepanjang sejarah, Uzbekistan tujuh kali gagal lolos ke putaran final Piala Dunia. Tim Eropa sekelas Portugal pun tidak punya alasan teknis untuk menjadwalkan uji coba ke Asia Tengah. Hasilnya: dua tim ini hidup di dua orbit yang tak pernah bersinggungan sampai sekarang.

Pertemuan ini, dengan kata lain, baru mungkin terjadi karena Uzbekistan akhirnya menembus pintu yang selama tiga dekade selalu tertutup bagi mereka.

Uzbekistan: kisah debutan yang menunggu 34 tahun

Untuk memahami bobot emosional laga ini dari sisi Uzbekistan, kita perlu mundur sejenak. Pada 5 Juni 2025, lewat hasil imbang tanpa gol melawan Uni Emirat Arab di Abu Dhabi, "Serigala Putih" (Oq boʻrilar) akhirnya memastikan tiket Piala Dunia untuk kali pertama dalam sejarah mereka.

Capaian ini bukan sekadar lolos. Uzbekistan menjadi negara Asia Tengah pertama yang tampil di putaran final, sekaligus negara ketiga pecahan Uni Soviet setelah Rusia dan Ukraina yang menembus pentas akbar ini. Mereka bahkan menyandang status unik sebagai negara double-landlocked (terkurung daratan ganda, dikelilingi sepenuhnya oleh negara-negara yang juga tak punya garis pantai) pertama yang lolos ke Piala Dunia.

Jalan ke sana penuh luka. Sepak bola Uzbekistan pernah kehilangan satu generasi pemain terbaiknya dalam tragedi kecelakaan pesawat klub Pakhtakor pada 1979. Setelah merdeka, harapan demi harapan kandas termasuk dua kegagalan paling menyakitkan di babak penentuan kualifikasi menuju Jerman 2006 dan Brasil 2014. Nama-nama besar seperti Server Djeparov, Odil Ahmedov, hingga Timur Kapadze pensiun tanpa pernah merasakan Piala Dunia.

Yang membalik keadaan adalah investasi jangka panjang di pembinaan usia muda. Hasilnya mulai terlihat: dua kali menembus perempat final Piala Dunia U-17, lolos ke 16 besar Piala Dunia U-20, dan tampil di Olimpiade Paris. Dari sanalah lahir generasi emas yang kini membawa Uzbekistan ke Amerika Utara.

Wajah-wajah yang patut diwaspadai Portugal

Bintang utama Uzbekistan justru bermain di liga yang sangat dikenal publik Eropa. Abdukodir Khusanov, bek tengah 22 tahun, pindah dari Lens ke Manchester City pada Januari 2025 dengan nilai transfer lebih dari 46 juta dolar AS menjadikannya pemain Uzbekistan pertama di Premier League.

Di lini serang ada Abbosbek Fayzullaev, winger lincah yang namanya sudah tercatat abadi: ia mencetak gol pertama Uzbekistan sepanjang sejarah Piala Dunia, pada menit ke-60 laga perdana melawan Kolombia, 17 Juni lalu. Kapten Eldor Shomurodov, penyerang berpengalaman yang merumput di Italia dan merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa timnas, melengkapi tulang punggung skuad.

Lalu ada satu ironi yang manis. Uzbekistan kini ditangani Fabio Cannavaro kapten Italia juara dunia 2006 dan peraih Ballon d'Or yang ditunjuk pada Oktober 2025 menggeser Kapadze ke posisi asisten. Dengan gaya bertahan yang disiplin, Uzbekistan bahkan sudah lama dijuluki "Italia-nya Asia". Kini mereka benar-benar dilatih seorang legenda pertahanan Italia. Menghadapi Portugal, Cannavaro hampir pasti akan meminta timnya bertahan dalam, menutup ruang, dan menyengat lewat serangan balik.

Portugal: kelas, pengalaman, dan tekanan yang tak biasa

Di seberang lapangan berdiri salah satu raksasa Eropa. Portugal datang dengan kedalaman skuad yang nyaris tak tertandingi lawannya malam ini: Vitinha, João Neves, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva di lini tengah; Pedro Neto dan Nuno Mendes di sisi sayap; serta tentu saja Cristiano Ronaldo yang masih menjadi magnet perhatian di setiap penampilan.

Namun Portugal tidak datang ke laga ini dengan suasana hati ideal. Di partai pembuka Grup K, mereka hanya bermain imbang 1-1 melawan DR Kongo pada 17 Juni hasil yang membuat tim asuhan Roberto Martínez kehilangan momentum awal dan praktis tak punya ruang untuk salah lagi jika ingin mengamankan posisi puncak grup. Tekanan, dengan kata lain, ada di pundak tim favorit, bukan di tim debutan.

Apa yang dipertaruhkan di Houston

Secara hitung-hitungan, ini adalah laga yang berat sebelah. Proyeksi peluang menempatkan Portugal sebagai favorit kuat dengan kemungkinan menang sekitar 85 persen, berbanding hanya beberapa persen untuk Uzbekistan, dan sekitar 10 persen untuk hasil imbang. Uzbekistan pun mengawali turnamen dengan kekalahan 1-3 dari Kolombia, sementara peluang terbaik mereka untuk meraih poin secara realistis ada di laga pamungkas melawan DR Kongo.

Namun justru karena itulah laga ini menarik diceritakan. Bagi Portugal, ini soal mengembalikan ritme dan menegaskan status. Bagi Uzbekistan, setiap menit di lapangan adalah pencatatan rekor baru pertama kali melawan tim sekelas Portugal, pertama kali menghadapi Ronaldo, pertama kali menguji generasi emas mereka melawan standar tertinggi sepak bola dunia.

Halaman pertama sebuah sejarah

Pada akhirnya, "head-to-head" Portugal vs Uzbekistan bukanlah daftar skor masa lalu, melainkan sebuah garis start. Apa pun hasil di Houston, malam itu akan menjadi entri pertama dalam catatan pertemuan kedua negara angka 1-0 dalam jumlah laga yang pernah dimainkan, di mana sebelumnya tertulis nol besar.

Dan barangkali itulah daya tarik Piala Dunia yang sesungguhnya: ia mempertemukan dunia-dunia yang selama ini terpisah, lalu membiarkan mereka saling menulis sejarah, satu peluit kick-off pada satu waktu.

Catatan: Hingga artikel ini disusun, pertandingan Portugal vs Uzbekistan (Grup K, NRG Stadium, Houston) berlangsung pada 24 Juni 2026 dini hari WITA dan belum dimainkan. Seluruh data merujuk pada catatan resmi FIFA, profil tim, serta hasil dua laga pembuka grup.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags