Israel Cegat Dua Proyektil dari Lebanon di Tengah Kebuntuan Gencatan Senjata dengan Hizbullah

- Minggu, 07 Juni 2026 | 14:50 WIB
Israel Cegat Dua Proyektil dari Lebanon di Tengah Kebuntuan Gencatan Senjata dengan Hizbullah

Militer Israel mengonfirmasi telah mencegat dua proyektil yang melintas dari Lebanon menuju wilayah utara negara itu, ditandai dengan bunyi sirine peringatan di daerah Yiftah dan Ramot Naftali. Peristiwa ini menjadi babak terbaru dari rangkaian ketegangan yang masih berlangsung antara Israel dan kelompok militan Hizbullah, di tengah kebuntuan negosiasi gencatan senjata yang tak kunjung menemui titik terang.

Bentrokan antara kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hizbullah, yang sejak 2 Maret lalu secara resmi menyatakan diri terlibat dalam konflik, menolak mentah-mentah usulan yang mengaitkan gencatan senjata dengan pelucutan senjata mereka. Kelompok yang berbasis di Lebanon selatan itu menegaskan bahwa Israel harus lebih dulu menghentikan seluruh serangan dan menarik pasukannya dari wilayah tersebut sebelum pembicaraan damai dapat dimulai.

Di sisi lain, Iran turut memainkan peran penting dalam dinamika ini. Teheran menjadikan gencatan senjata di Lebanon antara sekutu dekatnya, Hizbullah, dan Israel sebagai prasyarat utama untuk setiap kesepakatan perdamaian dengan Amerika Serikat. Langkah ini memperumit upaya mediasi yang selama ini coba dijembatani oleh Washington.

Hizbullah menyebut keterlibatan mereka dalam perang sebagai bentuk pembalasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran pada awal konflik. Sejak saat itu, pertempuran telah menewaskan ribuan orang di Lebanon dan memaksa lebih dari satu juta warga mengungsi meninggalkan rumah mereka.

Sementara itu, Israel terus melancarkan serangan ke wilayah Lebanon, bahkan sebelum tanggal 2 Maret, meskipun sebelumnya telah berlaku gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sejak November 2024. Pemerintah Israel membantah melanggar kesepakatan dan menegaskan bahwa setiap operasi militernya hanya menyasar anggota dan infrastruktur Hizbullah yang dinilai masih mengancam keamanan negara.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar