IHSG Diprediksi Konsolidatif, Investor Tunggu Hasil Review MSCI dan Gelombang IPO

- Selasa, 23 Juni 2026 | 11:35 WIB
IHSG Diprediksi Konsolidatif, Investor Tunggu Hasil Review MSCI dan Gelombang IPO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan bergerak dalam fase konsolidasi dalam waktu dekat, seiring sikap hati-hati investor yang menanti sejumlah katalis utama, terutama hasil MSCI Annual Market Classification Review dan potensi penyerapan likuiditas dari gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) baru.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 10.57 WIB, IHSG tercatat melemah 0,35 persen ke level 6.095. Nilai transaksi mencapai Rp4,70 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 7,53 miliar saham. Sebanyak 369 saham mengalami pelemahan, 296 saham menguat, dan 294 saham lainnya stagnan. Dalam sepekan terakhir, indeks acuan ini turun 2,50 persen, sementara dalam sebulan terakhir melemah 1,06 persen.

Sebelumnya, IHSG sempat mengalami tekanan signifikan hingga turun 38,2 persen sepanjang tahun berjalan. Namun, indeks berhasil bangkit dari posisi terendahnya dalam enam tahun di level 5.342 pada 8 Juni 2026. Meski demikian, laju pemulihan tersebut belum cukup kuat untuk mendorong optimisme jangka pendek di kalangan pelaku pasar.

Dua perusahaan sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas dan Phintraco Sekuritas, menilai bahwa pada Selasa (23/6/2026) pelaku pasar cenderung berada dalam mode wait and see. Minimnya katalis jangka pendek yang dapat memicu penguatan lebih lanjut menjadi alasan utama sikap hati-hati ini. Investor saat ini memusatkan perhatian pada pengumuman MSCI Annual Market Classification Review yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026, atau Rabu pagi waktu Indonesia.

Hasil tinjauan MSCI dinilai menjadi faktor krusial dalam membentuk persepsi investor global, terutama terkait posisi Indonesia dalam kategori emerging market. Implikasinya terhadap potensi arus dana asing menjadi salah satu variabel yang paling ditunggu. Selain itu, pasar juga mencermati hasil review S&P Global Standards terhadap peringkat Indonesia, yang turut menjadi acuan risiko investasi global.

Dari sisi domestik, pasar juga akan menghadapi rencana sejumlah IPO pada Juli 2026, di antaranya JELI, JECX, BACH, EMMI, PRDL, dan RANS. Gelombang penawaran saham baru ini berpotensi menyerap sebagian alokasi dana investor, sehingga dalam jangka pendek dapat membatasi ruang penguatan IHSG di pasar sekunder.

“IPO tersebut berpotensi menyerap likuiditas pasar dalam jangka pendek,” tulis BRI Danareksa dalam laporannya pada Selasa (23/6).

Secara teknikal, IHSG masih bergerak konsolidatif di kisaran 6.000 hingga 6.200 setelah menguat hampir 20 persen dari level terendah 5.330. BRI Danareksa menilai, selama IHSG bertahan di atas 6.000, tren pemulihan masih terjaga dengan potensi resistance di level 6.220 hingga 6.380.

Sementara itu, Phintraco Sekuritas menyoroti level pivot di 6.100 sebagai area kunci jangka pendek. IHSG tercatat berada di bawah MA-5, namun masih bertahan di atas MA-10 dan MA-20. Indikator MACD masih menunjukkan sinyal positif, meskipun Stochastic RSI mulai melemah ke area pivot. Dalam skenario teknikal, jika IHSG ditutup di bawah 6.100, indeks berpotensi menguji level psikologis 6.000. Namun, jika bertahan di atas 6.100, konsolidasi diperkirakan berlanjut di rentang 6.050 hingga 6.220.

Phintraco juga menyoroti potensi ketidakpastian dari ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang perubahan UU P2SK, terutama terkait kewajiban Bank Indonesia memperoleh persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dalam penetapan anggaran tahunannya. Ketentuan ini dinilai memunculkan perhatian pasar terkait persepsi independensi bank sentral, yang menjadi salah satu faktor tambahan yang dipantau investor.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini