Kenaikan Harga Energi Dorong Masyarakat Beralih ke Mobil Hybrid Plug-in, Efisiensi Biaya Jadi Pertimbangan Utama

- Kamis, 18 Juni 2026 | 08:30 WIB
Kenaikan Harga Energi Dorong Masyarakat Beralih ke Mobil Hybrid Plug-in, Efisiensi Biaya Jadi Pertimbangan Utama

Kenaikan harga energi global yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia mulai mengubah cara pandang masyarakat dalam memilih kendaraan. Jika sebelumnya faktor harga beli dan performa menjadi pertimbangan utama, kini efisiensi energi serta biaya penggunaan jangka panjang mendapat perhatian yang lebih besar.

Salah satu teknologi yang dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Berbeda dengan hybrid konvensional yang hanya mengandalkan mesin bensin dan sistem regenerative braking untuk mengisi baterai, PHEV memungkinkan pengisian daya langsung melalui sumber listrik eksternal. Dengan kapasitas baterai yang lebih besar, kendaraan ini dapat mengandalkan tenaga listrik untuk sebagian besar mobilitas harian, sementara mesin bensin akan bekerja ketika dibutuhkan tenaga tambahan atau saat daya baterai berkurang. Kombinasi ini menawarkan efisiensi sekaligus fleksibilitas untuk perjalanan jarak jauh.

Untuk penggunaan di dalam kota, kendaraan PHEV dapat beroperasi menggunakan tenaga listrik yang memberikan karakter berkendara lebih halus, senyap, dan responsif. Sementara itu, mesin bensin akan aktif secara otomatis saat diperlukan, sehingga pengguna tetap dapat melakukan perjalanan jarak jauh tanpa khawatir terhadap ketersediaan fasilitas pengisian daya.

Data yang disampaikan Lepas menunjukkan, mayoritas mobilitas harian masyarakat Indonesia berada di bawah 30 kilometer dan sekitar 88 persen perjalanan berada di bawah 60 kilometer per hari. Kondisi tersebut membuat sebagian besar perjalanan harian berpotensi dilakukan hanya dengan menggunakan tenaga listrik. Sebagai ilustrasi, kendaraan bermesin bensin dengan harga BBM Rp16.250 per liter diperkirakan membutuhkan biaya energi sekitar Rp33.750 hingga Rp68.750 per hari atau sekitar Rp843.750 hingga Rp1,71 juta per bulan untuk 25 hari penggunaan. Sementara kendaraan PHEV yang memanfaatkan tenaga listrik memiliki estimasi biaya energi sekitar Rp21.000 hingga Rp43.169 per hari atau sekitar Rp525.000 hingga Rp1,07 juta per bulan.

Dengan demikian, penggunaan tenaga listrik pada kendaraan PHEV berpotensi memberikan efisiensi biaya yang lebih baik untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari, tanpa menghilangkan fleksibilitas mesin bensin ketika diperlukan. Teknologi tersebut menjadi salah satu keunggulan yang diusung Lepas L8. Kendaraan ini dibekali sistem Plug-in Hybrid Electric Vehicle generasi terbaru yang diklaim mampu menempuh jarak lebih dari 100 kilometer dalam mode listrik murni.

Kemampuan tersebut dinilai cukup untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan mobilitas harian masyarakat perkotaan tanpa harus mengaktifkan mesin bensin. Ketika digunakan untuk perjalanan yang lebih jauh, sistem akan secara otomatis mengombinasikan motor listrik dan mesin bensin guna menjaga efisiensi sekaligus kenyamanan berkendara. L8 juga diklaim mampu menghadirkan total jarak tempuh lebih dari 1.300 kilometer dalam kondisi baterai dan tangki bahan bakar terisi penuh berdasarkan hasil pengujian internal perusahaan. Jarak tersebut disebut setara dengan perjalanan Jakarta-Bali atau Jakarta-Yogyakarta pulang-pergi tanpa perlu melakukan pengisian energi ulang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar