Audio Sindiran Wartawan ke Son Heung-min Memanas, Pemain Korea Selatan Boikot Wawancara Media

- Rabu, 17 Juni 2026 | 02:00 WIB
Audio Sindiran Wartawan ke Son Heung-min Memanas, Pemain Korea Selatan Boikot Wawancara Media

Hubungan Tim Nasional Korea Selatan dengan media domestik memanas di tengah perjuangan mereka di Piala Dunia 2026. Insiden ini bermula dari bocornya percakapan sejumlah wartawan saat sesi latihan terbuka di pusat latihan Korea Selatan di Guadalajara, Meksiko, pada Senin, 15 Juni 2026 waktu setempat. Audio yang tertangkap mikrofon siaran itu diduga berisi sindiran terhadap kapten tim, Son Heung-min, dan kemudian menyebar luas di media sosial Korea Selatan.

Reaksi publik pun bermunculan. Banyak pendukung Taegeuk Warriors mengecam komentar yang dianggap merendahkan pemain yang selama ini menjadi ikon sepak bola Korea Selatan. Dampaknya langsung terasa di lingkungan tim nasional. Para pemain dilaporkan menolak sejumlah agenda wawancara nonwajib dengan media sebagai bentuk solidaritas terhadap Son Heung-min. Aktivitas media pun dibatasi hanya untuk agenda resmi yang diwajibkan FIFA.

Beberapa media melaporkan ketegangan ini muncul di saat Korea Selatan tengah menjalani persiapan penting dalam ajang Piala Dunia 2026. Situasi tersebut menjadi perhatian karena jarang terjadi hubungan antara skuad nasional dengan media negaranya sendiri memburuk di tengah turnamen besar. Dalam audio yang beredar, salah satu suara terdengar menyindir cara berlari Son Heung-min. “Apakah kamu berlari seperti pemimpin peleton hanya karena kamu kapten?” ujar suara tersebut. Sindiran lainnya bahkan menyinggung status wajib militer sang pemain. “Dia bahkan tidak menyelesaikan wajib militernya. Orang-orang bodoh ini tidak tahu apa-apa tentang tentara,” demikian bunyi komentar lain yang memicu gelombang kritik dari masyarakat Korea Selatan karena dinilai menyerang sosok yang telah berjasa besar bagi negara.

Kontroversi audio bocor itu juga memunculkan kembali perdebatan lama mengenai status wajib militer Son Heung-min. Kapten Korea Selatan tersebut memang tidak menjalani dinas militer penuh seperti kebanyakan pria Korea Selatan. Namun, hal itu bukan karena menghindari kewajiban negara. Son memperoleh pembebasan khusus setelah membawa Korea Selatan meraih medali emas cabang sepak bola Asian Games 2018 di Indonesia. Berdasarkan regulasi Korea Selatan, atlet yang berhasil memenangkan medali emas Asian Games atau medali Olimpiade berhak mendapatkan pengecualian dari masa dinas militer reguler, meskipun mereka tetap diwajibkan mengikuti pelatihan dasar militer.

Pada April 2020, ketika kompetisi sepak bola dunia terhenti akibat pandemi COVID-19, Son menjalani pelatihan dasar militer selama tiga pekan bersama Korps Marinir Korea Selatan di Pulau Jeju. Media internasional mencatat pelatihan tersebut mencakup latihan menembak, menghadapi paparan gas air mata, pertolongan pertama, hingga mars sejauh 30 kilometer. Son bahkan dilaporkan menjadi salah satu peserta dengan nilai terbaik dalam pelatihan tersebut. Fakta itu membuat banyak pihak menilai sindiran yang beredar dalam audio bocor tidak mencerminkan keseluruhan informasi mengenai status wajib militer Son.

Menyusul polemik yang berkembang, Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) akhirnya mengeluarkan pernyataan resmi. KFA menyayangkan ucapan sejumlah awak media yang dinilai tidak pantas disampaikan di lingkungan tim nasional. “Federasi Sepak Bola Korea Selatan menyampaikan penyesalan atas pernyataan yang tidak pantas yang disampaikan sejumlah personel media selama sesi latihan tim nasional di pusat latihan Guadalajara,” kata KFA. Federasi juga menegaskan bahwa percakapan yang bocor tersebut telah memengaruhi kondisi psikologis skuad. “Namun, kebocoran percakapan tidak pantas dari sejumlah awak media di lokasi latihan baru-baru ini telah menimbulkan guncangan dan kekecewaan besar bagi tim,” ungkap KFA. KFA memastikan perlindungan terhadap pemain menjadi prioritas utama di tengah turnamen. “Federasi Sepak Bola Korea Selatan akan terus memprioritaskan perlindungan terhadap skuad serta berupaya menciptakan lingkungan media yang sehat,” tutup KFA.

Di tengah sorotan yang terus menguat, Son Heung-min memilih tidak memberikan komentar kepada media terkait polemik tersebut. Kapten berusia 33 tahun itu tetap fokus menjalani persiapan bersama tim nasional. Bagi banyak pendukung Korea Selatan, kasus ini bukan sekadar persoalan audio bocor. Insiden tersebut berkembang menjadi perdebatan nasional tentang profesionalisme media olahraga, penghormatan terhadap atlet, serta bagaimana negara memperlakukan figur yang telah membawa kebanggaan di panggung internasional. Lebih dari satu dekade membela Taegeuk Warriors, Son Heung-min telah menjadi simbol kepemimpinan, dedikasi, dan kebanggaan sepak bola Korea Selatan. Karena itu, dukungan publik terhadap sang kapten mengalir deras di tengah kontroversi yang mengiringi langkah Korea Selatan di Piala Dunia 2026.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar