Delapan Tewas dalam Serangan Rusia di Ukraina saat G7 Sepakat Perketat Sanksi ke Moskow

- Rabu, 17 Juni 2026 | 02:35 WIB
Delapan Tewas dalam Serangan Rusia di Ukraina saat G7 Sepakat Perketat Sanksi ke Moskow

Setidaknya delapan orang tewas dalam serangan terbaru Rusia di Ukraina yang dilancarkan tepat ketika para pemimpin negara-negara G7 sepakat untuk meningkatkan tekanan terhadap Moskow. Eskalasi ini menandai babak baru dalam konflik yang telah berlangsung selama empat tahun, sejak invasi Rusia pada tahun 2022, yang telah merenggut ratusan ribu jiwa warga sipil dan tentara serta menghancurkan sebagian besar wilayah Ukraina.

Gubernur regional Dnipropetrovsk, Oleksandr Ganzha, mengonfirmasi bahwa serangan pesawat nirawak atau drone Rusia menargetkan sebuah mobil di wilayah Dnipropetrovsk tengah, menewaskan tiga orang. Dalam pernyataannya, ia merinci bahwa korban jiwa meliputi seorang ibu dan anak laki-laki seorang wanita berusia 87 tahun dan seorang pria berusia 51 tahun sementara aparat penegak hukum masih berupaya mengidentifikasi korban ketiga.

Sementara itu, serangan artileri Rusia terhadap kota Sloviansk di wilayah Donetsk menewaskan tiga orang lainnya. Di sisi lain, serangan drone di wilayah Kherson selatan menewaskan dua orang dan melukai 16 orang lainnya.

Serangan-serangan ini terjadi di tengah pertemuan para pemimpin G7 bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di resor Evian, Prancis, pada Selasa (16/6). Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk meningkatkan sanksi terhadap Moskow sebagai respons atas agresi yang terus berlanjut.

Diplomasi juga menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump bertemu dengan Presiden Zelensky. Usai pertemuan itu, Trump menyatakan bahwa Rusia “harus membuat kesepakatan” untuk mengakhiri pertempuran. Menanggapi hal tersebut, Zelensky menawarkan untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Amerika Serikat guna membahas perdamaian. Namun, Kremlin menyatakan bahwa mereka belum menerima proposal tersebut.

Sebelumnya, pada awal bulan ini, Putin telah menyebut bahwa ia “tidak melihat gunanya” bertemu dengan Zelensky sampai kesepakatan perdamaian benar-benar siap. Pernyataan ini menunjukkan masih adanya jurang perbedaan yang lebar antara kedua pihak dalam upaya mencapai resolusi konflik.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar