RSCM Berhasil Implan Pompa Jantung Terkecil di Asia, Harapan Baru Pasien Gagal Jantung

- Senin, 10 Agustus 2026 | 12:00 WIB
RSCM Berhasil Implan Pompa Jantung Terkecil di Asia, Harapan Baru Pasien Gagal Jantung

Jakarta, 5 Agustus 2026 Di tengah krisis donor jantung yang masih membelit Indonesia, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menorehkan sejarah dengan berhasil memasang pompa jantung terkecil di dunia, CoreHeart 6, untuk pertama kalinya di Asia. Langkah ini membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut yang selama ini bergantung pada transplantasi jantung.

Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, mengakui bahwa pasien gagal jantung terminal sering menghadapi kebuntuan medis karena minimnya donor organ dan terbatasnya tenaga ahli. "Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun, tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus," ujarnya dalam keterangan resmi di RSCM, Rabu (5/8/2026).

Implantasi LVAD (Left Ventricular Assist Device) jenis CoreHeart 6 ini menjadi terobosan strategis pemerintah untuk memperkuat kemandirian layanan kardiovaskular. "Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," tegas Azhar.

Keberhasilan ini tidak boleh berhenti pada satu tindakan operasional. Pemerintah menargetkan model penanganan ini menjadi standar pelatihan bagi tenaga kesehatan di berbagai daerah. "Ilmunya jangan berhenti di satu tim. Semakin banyak dokter yang menguasai teknologi ini, semakin banyak pula pasien yang bisa diselamatkan," tambah Azhar.

Kolaborasi Multidisiplin

Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, menyatakan bahwa keberhasilan ini membuktikan tenaga medis Indonesia mampu mengadopsi teknologi kesehatan kelas dunia. RSCM kini dipersiapkan menjadi pusat pelatihan bagi rumah sakit lain di Asia yang ingin mengadopsi teknologi serupa.

Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM, Birry Karim, menjelaskan bahwa prosedur ini melibatkan kolaborasi intensif tim multidisiplin, mulai dari dokter jantung, bedah jantung, hingga intensivis. Program penanganan gagal jantung lanjut di RSCM sendiri telah dikembangkan secara sistematis sejak 2017 untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan terpadu.

Kondisi Pasien Pertama

Mengenai pasien pertama yang menjalani implantasi, Birry mengungkapkan perkembangan yang menggembirakan. Pasien sudah dapat dilepas dari ventilator dalam waktu kurang dari 24 jam dan kini sedang dalam tahap latihan mobilisasi. "Sejauh ini kondisi pasien terus membaik. Begitu pasien berhasil melewati fase kritis dan dapat dilepas dari ventilator, kami merasa sangat lega. Ini menjadi milestone penting bagi pengembangan layanan gagal jantung di Indonesia," kata Birry.

Keberhasilan prosedur di RSCM ini didukung oleh kemitraan strategis dengan HeartSpan.ai, yang memfasilitasi akses perangkat, pelatihan medis, hingga pengembangan sistem dukungan berbasis kecerdasan buatan (AI). Pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, menyatakan bahwa tujuan kolaborasi ini adalah membangun ekosistem layanan gagal jantung yang komprehensif.

Alat serupa telah digunakan oleh lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok. Pada beberapa kasus, fungsi jantung pasien dilaporkan membaik secara signifikan sehingga perangkat dimungkinkan untuk dilepas setelah dua hingga tiga tahun pemakaian.

Keberhasilan di RSCM ini diharapkan menjadi katalisator bagi peningkatan akses terapi bagi masyarakat luas. Dengan integrasi teknologi dan penguatan kompetensi tenaga kesehatan, Indonesia kini memiliki opsi penanganan medis yang lebih mumpuni dalam menghadapi tantangan penyakit kardiovaskular yang terus meningkat.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags