MDI Ventures Rilis White Paper Strategi Integrasi Modal Ventura, AI, dan Infrastruktur Digital untuk Dorong Ekonomi Inklusif

- Senin, 25 Mei 2026 | 11:30 WIB
MDI Ventures Rilis White Paper Strategi Integrasi Modal Ventura, AI, dan Infrastruktur Digital untuk Dorong Ekonomi Inklusif

MDI Ventures, perusahaan modal ventura korporasi yang berada di bawah naungan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, baru saja merilis sebuah white paper yang memetakan strategi integrasi modal ventura, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dan infrastruktur digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di Indonesia. Publikasi bertajuk “Catalyzing Digital Resilience and Sustainable Growth: Advancing Inclusive Innovation and AI-Driven Impact Across Indonesia's Digital Economy” ini secara spesifik menyoroti bagaimana ketiga elemen tersebut dapat menjadi katalis bagi 65 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Data menunjukkan bahwa UMKM berkontribusi sebesar 60,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 96,5 persen tenaga kerja di Indonesia. Namun, di balik angka yang impresif itu, kesenjangan pembiayaan masih menjadi hambatan struktural yang signifikan. Kebutuhan pendanaan UMKM jauh melampaui akses yang tersedia saat ini, menciptakan celah yang menghambat potensi ekspansi mereka. White paper ini hadir di tengah momentum penting ekonomi digital Indonesia, di mana nilai gross merchandise value (GMV) diproyeksikan mencapai 180 hingga 340 miliar dolar AS pada 2030, berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025.

Fokus utama dari publikasi ini adalah bagaimana investasi dapat menjembatani inklusi keuangan, kesiapan adopsi AI, dan ketahanan siber untuk menciptakan dampak yang terukur. Bagi MDI Ventures, tantangan yang dihadapi bukan sekadar memperluas adopsi teknologi digital, melainkan memastikan bahwa setiap portofolio investasi mampu mendukung digitalisasi UMKM secara relevan dan berkelanjutan. Direktur MDI Ventures, Roby Roediyanto, menegaskan bahwa white paper ini merefleksikan peran perusahaannya sebagai enabler yang menghubungkan inovasi dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

“Hal ini tercermin dari berbagai portofolio kami di bidang AI, cybersecurity, hingga digital infrastructure, yang menghadirkan solusi konkret untuk menjawab berbagai tantangan. Melalui pendekatan tersebut, kami melihat bahwa teknologi tidak hanya mampu menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga menghasilkan dampak sosial dan lingkungan yang terukur,” ungkap Roby. Sejalan dengan pernyataan tersebut, white paper ini juga menjadi upaya untuk memperjelas titik temu antara inovasi, kebutuhan pasar, dan arah kebijakan bagi para pendiri perusahaan rintisan, investor, entitas di lingkungan Telkom Group, hingga regulator.

Salah satu temuan kunci dalam publikasi ini adalah peran penting impact capital dalam menjawab kebutuhan pembiayaan pembangunan di Indonesia. Secara global, impact investing telah mencapai 1,571 triliun dolar AS dalam assets under management (AUM) dengan pertumbuhan 21 persen per tahun sejak 2019. Sementara itu, Indonesia masih membutuhkan dana sekitar 1,7 triliun dolar AS untuk menutup kesenjangan pembiayaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) hingga 2030. Dalam konteks ini, corporate venture capital memegang peran strategis dalam menghubungkan modal dengan sektor-sektor yang memiliki dampak tinggi.

Di sisi pembiayaan, AI muncul sebagai solusi potensial untuk memperkecil kesenjangan kredit. Data pada 2023 mencatat bahwa hanya 2,2 persen pelaku usaha mikro dan kecil yang berhasil mengakses pinjaman bank, menunjukkan betapa terbatasnya akses pembiayaan formal. Pendekatan seperti credit scoring berbasis data alternatif, yang diterapkan oleh Ascore.ai (Amartha), membuka peluang untuk memperluas akses kredit bagi segmen yang selama ini belum terlayani. MDI Ventures juga memandang ketahanan siber sebagai elemen krusial dalam memperkuat fondasi ekonomi digital nasional.

Meningkatnya risiko keamanan digital menjadi perhatian serius. Sepanjang 2024, tercatat 56,1 juta data terekspos dan 5.780 insiden defacement terjadi di Indonesia. Kondisi ini menuntut sistem perlindungan siber yang lebih proaktif. Melalui CYFIRMA, portofolio keamanan siber berbasis AI asal Singapura, MDI Ventures mendukung pengembangan kapabilitas threat intelligence dan sistem peringatan dini bagi perusahaan serta institusi strategis. Langkah ini pada akhirnya diharapkan dapat memperkuat keamanan dan kepercayaan dalam ekosistem digital yang menopang pertumbuhan UMKM.

Dampak dari pendekatan ini sudah mulai terlihat dari kinerja sejumlah portofolio MDI Ventures. Amartha, misalnya, telah menyalurkan lebih dari 28 triliun rupiah kepada 2,8 juta UMKM. Qoala mencatatkan 445 juta polis mikroasuransi, sementara Privy melayani lebih dari 57 juta pengguna terverifikasi. Bersama portofolio lain di bidang AI dan keamanan siber, capaian ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat memperluas akses, meningkatkan kepercayaan, dan memperkuat fondasi ekonomi digital yang inklusif.

Secara keseluruhan, portofolio tersebut mencerminkan empat pilar utama yang diidentifikasi white paper sebagai kunci ekonomi digital inklusif: infrastruktur kredit berbasis data alternatif, perlindungan finansial yang tertanam, identitas digital dan kepercayaan, serta enterprise tooling berbasis AI yang terhubung dengan jaringan distribusi Telkom Group dan ekosistem BUMN. Alvin Evander, VP Strategy & Sustainability MDI Ventures, menjelaskan bahwa kerangka kerja dual-lens yang digunakan perusahaannya menempatkan setiap investasi pada dua kriteria utama.

“Apakah bisnisnya layak secara komersial, dan apakah dampaknya dapat diukur sesuai tujuan Sustainable Development Goals. Dengan pendekatan tersebut, kami berupaya menjaga akuntabilitas portofolio, sekaligus menunjukkan kepada investor dan mitra korporasi bahwa dampak dan imbal hasil dapat tumbuh bersama,” pungkas Alvin. Ke depannya, MDI Ventures akan terus berfokus pada perkembangan sektor esensial seperti AI, keamanan siber, dan blockchain, seiring dengan arah strategis perusahaan yang semakin menekankan investasi berbasis dampak yang terukur. White paper ini diharapkan menjadi rujukan bagi co-investor, mitra BUMN, regulator, dan para pendiri perusahaan rintisan dalam membangun ekonomi digital Indonesia yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar