Bacaan niat puasa sunah Tarwiyah dan Arafah yang jatuh pada 8 dan 9 Dzulhijjah mulai banyak dicari umat Islam menjelang perayaan Idul Adha. Dua puasa ini, yang masing-masing dilaksanakan sehari dan dua hari sebelum Idul Adha, memiliki keutamaan besar, termasuk pengampunan dosa dan pahala yang berlipat ganda.
Puasa Tarwiyah dan Arafah sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Namun, bagi jemaah haji yang tengah melaksanakan wukuf di Arafah, hukum berpuasa pada 9 Dzulhijjah adalah haram. Kedua puasa sunah ini menjadi bagian dari amalan utama di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, yang disebut-sebut memiliki keistimewaan luar biasa, salah satunya menghapus dosa setahun yang lalu.
Asal-usul penamaan Tarwiyah berasal dari kata “tarawwa” yang berarti membawa bekal air. Pada masa lalu, para jemaah haji membawa banyak air zam-zam untuk persiapan menuju Arafah dan Mina. Mereka minum, memberi minum unta, dan menyimpannya dalam wadah. Sementara itu, nama Arafah memiliki makna “mengetahui”. Menurut riwayat dari Ibnul Mubarak, tempat wukuf dinamakan Arafah karena ketika Malaikat Jibril menunjukkan tempat-tempat manasik kepada Nabi Ibrahim, beliau berkata, “Aku telah mengenal ini” (dalam bahasa Arab: ‘Araftu), sehingga tempat itu kemudian disebut Arafah.
Ustaz Muhammad Saiyid Mahadhir dalam bukunya “Hari Arafah dan Puasa Arafah Tidak Boleh Berbeda?” menjelaskan korelasi antara puasa Arafah dan wukuf. Menurutnya, hari Arafah adalah puncak ritual haji di mana seluruh jemaah melaksanakan wukuf. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW bahwa “Al-Hajju Arafah” atau haji itu adalah Arafah. Hari tersebut bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah.
Mahadhir menegaskan bahwa wukuf di Arafah harus memenuhi dua syarat, yaitu waktu dan tempat. Waktunya pada 9 Dzulhijjah, dan tempatnya di Arafah. Sementara itu, puasa Arafah adalah ibadah sunah yang dilakukan oleh mereka yang tidak sedang wukuf, dengan waktu yang sama, yaitu 9 Dzulhijjah.
“Ada titik temu antara dua jenis ibadah ini, yaitu waktunya bertepatan dengan tanggal 9 Dzulhijjah. Namun, dua ibadah ini tidak saling berkaitan satu sama lain. Ibadah wukuf tetap sah meskipun orang di luar Mekkah tidak berpuasa, dan sebaliknya, puasa sunah tanggal 9 tetap sah meskipun jemaah haji tidak wukuf,” jelasnya.
Berdasarkan kalender Hijriah Kementerian Agama, puasa Tarwiyah tahun 2026 jatuh pada Senin, 25 Mei 2026, sedangkan puasa Arafah dilaksanakan pada Selasa, 26 Mei 2026. Idul Adha sendiri jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Dengan demikian, umat Islam dapat menjalankan kedua puasa sunah ini secara berurutan.
Niat puasa Tarwiyah dan Arafah memiliki lafal yang berbeda. Untuk puasa Tarwiyah, bacaannya adalah “Nawaitu shouma tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala” yang artinya “Saya niat puasa Tarwiyah, sunnah karena Allah ta’ala.” Sedangkan untuk puasa Arafah, bacaannya adalah “Nawaitu shouma arafata sunnatan lillahi ta’ala” yang artinya “Saya niat puasa sunah Arafah karena Allah Ta’ala.”
Keutamaan puasa Tarwiyah dan Arafah sangat banyak. Pertama, kedua puasa ini dapat menghapus dosa. Dalam hadits riwayat Tirmidzi dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa puasa di hari Tarwiyah akan mengampuni dosa setahun yang lalu, sedangkan puasa Arafah akan mengampuni dosa dua tahun. Hadits lain dari Abu Qatadah yang diriwayatkan Muslim juga menyebutkan bahwa puasa Arafah menjadi penebus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya.
Kedua, puasa ini diibaratkan seperti puasa sepanjang tahun. Dalam sebuah hadits, disebutkan bahwa siapa yang berpuasa sepuluh hari, maka setiap harinya seperti puasa sebulan. Khusus untuk puasa Tarwiyah, pahalanya seperti puasa setahun, sedangkan puasa Arafah seperti puasa dua tahun. Ketiga, pahala puasa ini dilipatgandakan. Imam As-Syarwani menyebutkan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah Al-Asyhur al-hurum, dan Dzulhijah termasuk di dalamnya.
Keempat, hari Arafah menjadi momen pembebasan dari api neraka. Dalam hadits riwayat Muslim dari Siti Aisyah, Rasulullah bersabda bahwa tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari neraka lebih banyak daripada hari Arafah. Kelima, puasa Tarwiyah dan Arafah merupakan puasa paling utama setelah Ramadan. Keenam, amalan di sepuluh hari pertama Dzulhijjah, termasuk puasa ini, lebih utama daripada jihad, kecuali bagi seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwanya lalu tidak kembali.
Ketujuh, menjalankan puasa ini berarti mengikuti sunnah Nabi SAW. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, disebutkan bahwa Rasulullah biasa berpuasa sembilan hari di bulan Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah. Dengan demikian, menjalankan kedua puasa ini tidak hanya mendatangkan pahala besar, tetapi juga menjadi bentuk kecintaan kepada sunnah Rasulullah. Wallahu A'lam.
Artikel Terkait
Banjir Landa Palabuhanratu, Sungai Cipalabuhan Meluap dan Rendam Puskesmas hingga Pasar
Allano Lima Beri Sinyal Tinggalkan Persija, Persebaya Jadi Tujuan Potensial
Kecelakaan di Tol Pasuruan–Probolinggo, Sopir Innova Diduga Mengantuk hingga Tabrak Truk
80 Persen Wilayah Terdampak Banjir di Sumatera Barat Pulih, Tito Karnavian Soroti Tiga Daerah yang Masih Butuh Atensi