Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo Nilai Film Pesta Babi Tidak Berimbang dan Provokatif

- Selasa, 19 Mei 2026 | 22:25 WIB
Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo Nilai Film Pesta Babi Tidak Berimbang dan Provokatif

Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo, H Kurniawan, menilai film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale bersifat provokatif. Menurutnya, film tersebut lebih banyak menyoroti sisi negatif pembangunan di Papua tanpa menampilkan secara utuh berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah di wilayah itu.

“Di sini yang tidak berimbang masalah film itu tadi. Di sini tidak memunculkan apa saja yang dilakukan pemerintahan, dari mulai Presiden sebelumnya sampai Presiden Prabowo saat ini, itu seolah-olah pemerintah itu tidak punya prestasi di Papua,” kata Kurniawan dalam program Rakyat Bersuara bertajuk ‘Ada Apa di Balik Film Pesta Babi?’ yang disiarkan iNews, Selasa (19/5/2026).

Ia mencontohkan pembangunan infrastruktur yang telah membuka akses di Papua, termasuk jalan yang menghubungkan wilayah Sorong hingga Jayapura. Kurniawan juga menilai pembangunan perkebunan dan pembukaan lahan pertanian di Papua dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan wilayah di masa depan.

“Saya yakin ke depannya setelah terbukanya perkebunan kelapa sawit maupun sawah baru, saya yakin ke depannya Papua pun bisa mengimbangi provinsi-provinsi lainnya,” tuturnya.

Sementara itu, Kurniawan mengkhawatirkan dampak penayangan film tersebut terhadap publik. Menurutnya, tidak semua penonton memiliki pemahaman yang sama terhadap pesan yang disampaikan. Ia menilai isi Pesta Babi berpotensi menimbulkan persepsi yang berbeda di tengah masyarakat.

“Ini tidak boleh terjadi, karena pemahaman dari film ini, nggak semua orang yang nonton film ini bisa memahami maksud dan tujuan dari adegan-adegan yang ada di film itu,” katanya.

Di sisi lain, Kurniawan menegaskan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus berupaya merangkul masyarakat Papua. Meskipun diakui masih terdapat berbagai kekurangan dalam proses pembangunan, ia menilai hal tersebut akan menjadi bahan evaluasi.

“Prabowo merangkul semuanya. Kalaupun terjadi kekurangan-kekurangan, tentu akan menjadi evaluasi supaya ke depannya bisa ditingkatkan,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan arah pesan yang ingin dibangun dalam film tersebut. Sebab, menurutnya, film itu hanya menonjolkan persoalan yang terjadi di Papua tanpa memberikan ruang terhadap capaian pembangunan pemerintah.

“Jadi intinya saya garis bawahi bahwa apa yang dilakukan pemerintah di Papua harus diapresiasi juga dong ya, jangan semua salah,” katanya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar