Kondisi pasar global yang dipenuhi ketidakpastian geopolitik dan lonjakan biaya operasional menjadi tantangan serius bagi industri jasa pertambangan. PT Andalan Artha Primanusa (AAP), perusahaan kontraktor jasa pertambangan batu bara dan nikel, mengakui dinamika tersebut mendorong para pelaku industri untuk semakin adaptif, menjaga keseimbangan antara proses transisi dan bisnis, serta memperkuat posisi dalam rantai pasok mineral global demi menjaga produktivitas tambang.
Menghadapi tekanan tersebut, AAP memilih untuk tidak tinggal diam. Direktur Utama AAP, Gahari Christine, mengungkapkan bahwa perseroan terus memperkuat posisi di bidang jasa pertambangan melalui investasi strategis pada peremajaan armada baru. Langkah ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar dan menjadi salah satu kunci menghadapi tantangan yang ada.
"Tantangan ini kami sikapi dengan terus memperkuat positioning di bidang mining services, melalui investasi strategis pada peremajaan armada baru, yang telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi konsumsi bahan bakar," ujar Gahari dalam keterangan resminya, Selasa (19/5/2026).
Di sisi lain, perusahaan juga menerapkan pendekatan selektif dalam memilih kontrak baru. Strategi ini, menurut Gahari, menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas portofolio bisnis dan memastikan keberlanjutan usaha secara sehat di tengah kondisi pasar yang masih menantang.
Meski dibayangi tekanan eksternal, AAP optimistis dapat merealisasikan target pendapatan sebesar Rp1,41 triliun pada 2027. Target tersebut dipatok dengan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 28 persen hingga 2028 mendatang.
Keyakinan itu tidak tanpa dasar. Gahari menjelaskan, keberhasilan strategi efisiensi dan keunggulan operasional telah tercermin pada kinerja finansial perusahaan di 2025. Saat itu, AAP berhasil meningkatkan performa margin EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) di angka 39 persen, dengan nilai mencapai Rp145,4 miliar.
"Keberhasilan strategi efisiensi dan keunggulan operasional ini tercermin nyata pada kinerja finansial kami, yang di 2025 kemarin berhasil meningkatkan performa margin EBITDA di angka 39 persen, dengan nilai sebesar Rp145,4 miliar," ujar Gahari.
Pencapaian tersebut diraih di tengah kondisi force majeure dan cuaca ekstrem yang membayangi industri. Dengan didukung kepastian volume dari beragam kontrak yang sedang berjalan, AAP pun menetapkan target CAGR yang ambisius hingga 2028. Pendapatan diproyeksikan meningkat dari Rp949,6 miliar pada 2026, menjadi Rp1,41 triliun di 2027, dan selanjutnya membidik Rp1,55 triliun pada 2028.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, EBITDA diperkirakan tumbuh dengan CAGR 21 persen hingga mencapai Rp514,2 miliar pada 2028. Sementara itu, target laba bersih melonjak dengan CAGR 31 persen, mencapai Rp223,9 miliar pada periode yang sama.
"Fokus kami ke depan adalah menjaga komitmen pertumbuhan yang solid dan terukur ini demi memberikan nilai jangka panjang yang optimal bagi seluruh pemangku kepentingan," ujar Gahari.
Artikel Terkait
Pemerintah Tetapkan 430 Cagar Budaya Nasional Baru, Lampaui Akumulasi 80 Tahun
Menkeu: Intervensi Pasar SBN Dimulai Pekan Lalu, Rp2 Triliun per Hari untuk Redam Gejolak Rupiah
Penarikan Utang Baru Pemerintah Capai Rp305,5 Triliun hingga April 2026
Liverpool Incar Denzel Dumfries sebagai Target Utama Bek Kanan pada Bursa Transfer 2026