Perubahan gaya bepergian di kalangan anak muda telah menggeser preferensi mereka terhadap perlengkapan perjalanan, dari koper berukuran besar menuju tas dan koper kabin yang lebih ringkas. Tren ini dipicu oleh kebiasaan baru para turis muda yang lebih gemar melakukan perjalanan singkat atau short trip, berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung memanfaatkan cuti tahunan panjang untuk berlibur hingga tujuh hari ke luar kota atau bahkan ke luar negeri.
Brand Manager Victorinox Indonesia, Franco Wijaya, mengamati bahwa pola perjalanan saat ini jauh lebih beragam dibandingkan beberapa tahun lalu. Menurutnya, segmen wisatawan tidak lagi hanya didominasi oleh leisure traveler yang identik dengan koper besar, melainkan telah berkembang mencakup backpacker, budget traveler, hingga pecinta kegiatan luar ruangan seperti camping, touring, dan tracking.
“Kalau dulu mungkin kita tahunya cuma leisure traveler yang ke mana-mana bawa koper, tapi sekarang itu sangat banyak. Ada backpacker, budget traveler, sampai yang suka camping, touring, tracking,” ujar Franco dalam acara peluncuran merek Victorinox pada Selasa (19/5/2026).
Perubahan gaya hidup ini, lanjut Franco, secara langsung memengaruhi kebutuhan akan travel gear. Jika sebelumnya konsumen lebih mementingkan fungsi dan memilih warna gelap seperti hitam, kini generasi Z justru menjadikan desain sebagai pertimbangan utama. “Kalau generasi dulu yang penting fungsi. Warnanya juga dominan hitam atau gelap. Tapi sekarang sudah warna-warni, pastel, Gen Z friendly,” katanya.
Franco menilai koper saat ini tidak lagi sekadar alat untuk membawa barang, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup dan sarana ekspresi diri. “Orang-orang pakai koper bukan hanya untuk fungsi, tapi untuk flexing juga. Ketika di airport bawa koper yang warnanya bagus, lucu, itu ada kebanggaan sendiri,” lanjutnya.
Di sisi lain, kebiasaan bepergian generasi Z yang lebih sering namun dalam durasi singkat turut mengubah tren ukuran koper yang paling diminati. Koper berukuran kabin (cabin size) menjadi pilihan utama karena dinilai lebih praktis dan menghemat biaya, mengingat para pelancong enggan membayar bagasi tambahan untuk perjalanan singkat. “Sekarang bepergian lebih sering tapi sebentar-sebentar karena healing atau mental health. Jadi yang paling banyak dicari itu cabin size karena lebih praktis. Traveler sekarang lebih berbudget. Jarang yang mau beli bagasi kalau perginya cuma singkat,” tambahnya.
Meskipun tren perjalanan berubah, Franco menegaskan bahwa kebutuhan utama saat bepergian tetap sama, yaitu memastikan barang-barang esensial terbawa sesuai dengan destinasi. Misalnya, membawa pakaian hangat saat berkunjung ke negara dingin. “Kalau ke negara dingin tentu wajib bawa pakaian hangat. Tapi secara umum yang pasti dibawa ya pakaian, sepatu, dan kebutuhan pribadi lainnya,” jelasnya.
Franco menyimpulkan bahwa keragaman gaya perjalanan saat ini membuat kebutuhan setiap individu akan perlengkapan perjalanan menjadi semakin spesifik dan tidak bisa disamaratakan. “Sekarang gaya traveling itu banyak banget. Jadi kebutuhan setiap orang juga berbeda-beda,” tutupnya.
Artikel Terkait
PT Musim Mas Hormati Proses Hukum Usai Ditetapkan Tersangka Korporasi Kasus Perusakan Lingkungan di Riau
Kebakaran Rumah di Cengkareng, Dua Orang Luka Bakar
Enzo Maresca Kandidat Terdepan Gantikan Guardiola di Manchester City
Menaker Dorong Pekerja Terus Berinovasi di Tengah Dinamika Global dan Perkembangan Teknologi