Hamparan luas reruntuhan batu di pinggiran Kota Annaba, Aljazair, bukan sekadar tumpukan puing kuno, melainkan saksi bisu peradaban yang pernah berjaya. Hippo Regius, situs arkeologi kota Romawi di ujung timur Afrika Utara, menyimpan jejak kejayaan, pergulatan iman, dan luka perang yang membekas selama berabad-abad. Kementerian Pariwisata dan Kerajinan Tangan Aljazair mengundang sejumlah jurnalis, termasuk rombongan dari Indonesia, untuk mengunjungi langsung kawasan bersejarah itu pada Minggu, 17 Mei 2026, dalam rangkaian acara Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV) ke-25.
Kota Annaba sendiri dikenal sebagai Mutiara Pantai Timur atau La Perle de l’Est. Terletak di ujung timur laut Aljazair, tidak jauh dari perbatasan Tunisia, kota pesisir ini memadukan kekayaan sejarah kuno, keindahan alam pegunungan, dan pesona Laut Mediterania. Sebelum menyandang nama Annaba, kawasan ini telah berpindah tangan dari berbagai peradaban besar, mulai dari pelabuhan utama bangsa Numidia hingga menjadi kota Romawi yang makmur.
Dalam sejarah teologi dunia, Annaba memiliki tempat istimewa. Kota ini merupakan tempat tinggal dan pelayanan Santo Agustinus, atau Saint Augustine of Hippo, salah satu pemikir dan teolog paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan. Ia menjabat sebagai Uskup di Hippo Regius sejak tahun 396 Masehi hingga wafatnya ketika kota dikepung bangsa Vandal pada tahun 430 Masehi.
Perjalanan menuju situs arkeologi itu dimulai pukul 10.00 waktu setempat dari pusat kota Annaba. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, hamparan luas reruntuhan batu peninggalan sejarah mulai terlihat. Itulah kawasan Hippo Regius yang kini menjadi destinasi wisata unggulan di Aljazair. Situsnya membentang di lanskap berbukit, dengan domba yang merumput di antara reruntuhan dan bunga liar yang tumbuh di sela-sela batu tua. Beberapa bangunan di kompleks ini dulunya berdiri megah dengan lantai marmer yang kini hanya menyisakan pecahan.
Sejarah Hippo Regius ternyata dimulai jauh sebelum Romawi tiba. Sekitar abad ke-12 Sebelum Masehi, bangsa Fenisia dari Tyre mendirikan pemukiman di muara Sungai Seybouse. Pelabuhan alaminya membuat kota ini cepat berkembang menjadi pusat perdagangan. Bangsa Numidia kemudian datang dan memberi nama Hippo Regius, yang berarti salah satu kediaman raja.
“Perjalanan Hippo Regius sangat panjang sebelum akhirnya Romawi datang dan berakhir sebagai situs sejarah seperti saat ini,” ujar seorang pemandu menjelaskan kepada rombongan jurnalis.
Artikel Terkait
Drone Tempur MQ-9 Reaper Milik AS Ditembak Jatuh Kelompok Houthi di Marib, Yaman
Polisi Depok Tangkap 41 Penjual Obat Ilegal, Sita 12.314 Butir Obat Golongan G
KSP Tegaskan Komitmen Penuh Pemerintah Awasi Perlindungan Pekerja Migran dari Berangkat hingga Pulang
Eks Kasat Narkoba Polres Kutai Barat Dipecat karena Terbukti Langgar Kode Etik Narkoba