HIPMI: Transformasi Ekonomi Indonesia Harus Bertumpu pada Modernisasi Industri dan Lahirkan Pengusaha Nasional Kompetitif

- Minggu, 17 Mei 2026 | 18:15 WIB
HIPMI: Transformasi Ekonomi Indonesia Harus Bertumpu pada Modernisasi Industri dan Lahirkan Pengusaha Nasional Kompetitif

Transformasi perekonomian Indonesia dinilai harus bertumpu pada modernisasi agar mampu melahirkan pengusaha nasional yang kompetitif di tengah perubahan ekonomi global. Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi yang merujuk pada pemikiran Soemitro Djojohadikoesoemo, ekonom yang pengaruhnya sangat besar di Indonesia dan kerap disebut sebagai “Soemitronomics”.

Pemikiran Soemitro dinilai memiliki relevansi yang kuat dalam menentukan arah pembangunan ekonomi Indonesia modern. Calon Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI), Anthony Leong, menjelaskan bahwa esensi dari Soemitronomics adalah transformasi ekonomi dari yang semula berbasis komoditas primer menuju ekonomi industri modern. Hal ini, menurutnya, dapat dicapai melalui perencanaan negara, penguatan kapasitas nasional, dan penciptaan pengusaha domestik.

“Esensi Soemitronomics adalah transformasi ekonomi dari berbasis komoditas primer menuju ekonomi industri modern melalui perencanaan negara, penguatan kapasitas nasional, dan penciptaan pengusaha domestik,” kata Anthony dalam keterangan tertulis pada Minggu, 17 Mei 2026.

Pernyataan itu disampaikan Anthony saat mengisi kuliah umum bersama BPD HIPMI Bali, BPC HIPMI se-Bali, HIPMI Perguruan Tinggi (HIPMI PT), pengusaha muda Bali, serta kalangan akademisi. Acara tersebut digelar di Universitas Udayana, Bali, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut Anthony, Soemitronomics tidak sekadar berbicara mengenai intervensi negara dalam ekonomi. Lebih dari itu, ia menilai pemikiran tersebut merupakan sebuah paradigma pembangunan yang menempatkan negara sebagai arsitek transformasi struktural ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa pemikiran Soemitro lahir dari kesadaran bahwa negara berkembang tidak dapat sepenuhnya menyerahkan proses industrialisasi kepada mekanisme pasar bebas.

Dalam teori pembangunan ekonomi, pendekatan ini dikenal sebagai developmental state atau negara pembangunan. Dalam model ini, pemerintah memiliki peran aktif untuk mengarahkan investasi, melindungi industri strategis, dan membangun fondasi industrialisasi jangka panjang. Anthony mencontohkan bahwa model serupa pernah berhasil diterapkan di Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok pada fase awal industrialisasi mereka.

“Pasar penting untuk efisiensi, tetapi sejarah menunjukkan tidak ada negara industri besar yang tumbuh tanpa peran strategis negara pada fase awal pembangunan industrinya,” katanya.

Anthony menilai Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang mirip dengan era awal pembangunan pasca-kemerdekaan. Tantangan tersebut meliputi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah, rendahnya produktivitas industri nasional, dan dominasi teknologi asing dalam rantai nilai global. Karena itu, ia menilai kebijakan hilirisasi sumber daya alam yang saat ini dijalankan pemerintah merupakan bentuk modern dari semangat Soemitronomics, yaitu upaya menciptakan nilai tambah domestik dan memperkuat basis industri nasional.

Namun, Anthony mengingatkan bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti pada pengolahan bahan mentah semata. Menurutnya, Indonesia harus melanjutkan transformasi menuju penguasaan teknologi, riset, dan inovasi industri.

“Dalam perspektif ekonomi pembangunan modern, nilai tambah terbesar bukan lagi pada komoditas, tetapi pada teknologi, intellectual property, data, dan inovasi. Karena itu industrialisasi Indonesia harus naik kelas,” ujarnya.

Di sisi lain, Anthony juga menyoroti pentingnya penciptaan national champion atau perusahaan nasional berskala global. Ia menilai Soemitro sejak awal telah memahami bahwa kedaulatan ekonomi membutuhkan kelas pengusaha nasional yang kuat, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi berbasis modal asing. Menurutnya, tantangan Indonesia saat ini bukan hanya menarik investasi asing, tetapi juga memastikan transfer teknologi, penguatan industri lokal, dan tumbuhnya perusahaan domestik yang mampu masuk dalam rantai pasok global.

“Kalau Indonesia hanya menjadi basis produksi tanpa penguasaan teknologi dan kepemilikan industri nasional, maka kita hanya naik secara statistik ekonomi, tetapi belum benar-benar berdaulat secara ekonomi,” katanya.

Anthony menambahkan bahwa tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah keluar dari middle income trap atau jebakan negara berpendapatan menengah. Sejarah menunjukkan, negara yang berhasil keluar dari jebakan tersebut adalah negara yang mampu melakukan transformasi industri dan penguasaan teknologi secara konsisten.

“Indonesia membutuhkan arah pembangunan jangka panjang yang konsisten. Soemitronomics mengajarkan bahwa pembangunan ekonomi tidak bisa hanya mengikuti siklus politik jangka pendek, tetapi membutuhkan visi negara yang berkelanjutan,” ujar Anthony.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar