Dolar AS Menguat Setelah Inflasi Produsen Melonjak, Pasar Tunggu Hasil Pertemuan Trump-Xi

- Kamis, 14 Mei 2026 | 09:45 WIB
Dolar AS Menguat Setelah Inflasi Produsen Melonjak, Pasar Tunggu Hasil Pertemuan Trump-Xi

Dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Rabu, 13 Mei 2026, setelah data inflasi produsen yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan analis. Kondisi ini memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini. Di saat yang sama, pelaku pasar juga mencermati kunjungan kenegaraan Presiden Donald Trump ke Tiongkok, khususnya untuk menilai apakah ada perkembangan berarti dalam upaya meredakan ketegangan dengan Iran setelah kebuntuan panjang antara Washington dan Teheran.

Indeks dolar AS, yang mengukur nilai mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat naik 0,2 persen ke level 98,49. Penguatan ini terjadi sehari setelah rilis data indeks harga konsumen (CPI) April yang juga menunjukkan tren kenaikan, menandakan tekanan harga masih membayangi perekonomian.

Fokus utama pasar pada Rabu adalah laporan indeks harga produsen (PPI) April. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, PPI utama bulan lalu melonjak 1,4 persen secara bulanan, mencatatkan kenaikan terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, angka tersebut melesat enam persen, level tertinggi sejak Desember 2022. Realisasi ini jauh melampaui ekspektasi analis yang sebelumnya memperkirakan kenaikan 0,5 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan.

Data PPI yang panas ini mengonfirmasi bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah telah berdampak luas, tidak hanya pada harga konsumen tetapi juga pada biaya produksi. Para ekonom menilai, dengan inflasi yang masih terpengaruh guncangan harga energi, Federal Reserve kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Meski demikian, alat pemantauan CME FedWatch menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga pada akhir tahun masih tetap terjaga setelah rilis data tersebut.

Ekonom senior di Interactive Brokers, José Torres, mengingatkan bahwa risiko inflasi kini semakin meluas. Menurutnya, sektor jasa dalam indeks harga produsen tumbuh lebih cepat dibandingkan sektor barang inti, yang berarti tekanan harga mulai menyebar ke seluruh sendi perekonomian.

“Memang, guncangan harga minyak adalah peristiwa sekali saja. Namun, begitu perusahaan menaikkan harga jual mereka, kenaikan tersebut cenderung sulit diubah dan tidak mungkin dibalikkan oleh penurunan harga minyak mentah selanjutnya,” ujar Torres.

Ia menambahkan bahwa krisis tahun 2022 telah memberikan pelajaran berharga. Dampak tekanan harga di pompa bensin telah meluas ke berbagai barang, terutama jasa, sehingga The Fed belum mampu mengarahkan inflasi kembali ke target dua persen sejak 2021. “Peningkatan tekanan harga menyebabkan perusahaan fokus pada perluasan margin setelah biaya input turun. Itu merupakan kekhawatiran nyata bagi ekspektasi inflasi,” kata Torres.

Data PPI ini dirilis di tengah masa transisi kepemimpinan The Fed. Ketua petahana Jerome Powell akan mengakhiri masa jabatannya pada Jumat mendatang. Posisinya akan digantikan oleh Kevin Warsh, pilihan Presiden Trump, yang telah dikonfirmasi Senat AS sebagai kepala bank sentral berikutnya pada Rabu.

Sementara itu, perhatian pasar juga tertuju pada agenda diplomatik tinggi. Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam kebuntuan setelah Trump awal pekan ini menyatakan bahwa gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai berada dalam “kondisi kritis”. Pernyataan itu muncul setelah Trump menolak tanggapan Teheran terhadap proposal yang didukung AS untuk mengakhiri konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kini, sorotan beralih ke pertemuan puncak Trump dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Trump tiba di Beijing pada Rabu dan disambut dengan upacara penyambutan resmi. Kedua pemimpin dijadwalkan bertemu pada Kamis untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari ketegangan perdagangan, konflik Iran, Taiwan, hingga rantai pasok global.

Trump tidak datang sendirian. Ia membawa serta sejumlah eksekutif perusahaan besar, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Boeing Kelly Ortberg. Kehadiran para pemimpin bisnis ini mengindikasikan bahwa Trump juga mendorong kesepakatan dagang baru di sela-sela kunjungan kenegaraan.

Namun, sebagian besar sorotan kemungkinan akan tertuju pada perang Iran. Beberapa analis memperkirakan Trump akan mencoba membujuk Tiongkok yang merupakan importir utama energi Iran untuk bertindak sebagai penjamin perjanjian damai antara Washington dan Teheran. Meskipun demikian, harapan terhadap langkah ini dinilai masih tipis.

Di pasar mata uang lainnya, euro melemah 0,2 persen terhadap dolar AS menjadi 1,1713 dolar. Data dari Eurostat menunjukkan produk domestik bruto Zona Euro pada kuartal pertama 2026 tumbuh 0,1 persen secara kuartalan dan 0,8 persen secara tahunan. Angka ini melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang masing-masing sebesar 0,2 persen dan 1,3 persen. Pertumbuhan lapangan kerja di kawasan tersebut juga melambat, dari 0,2 persen menjadi 0,1 persen secara kuartalan.

Poundsterling juga tertekan, turun 0,1 persen menjadi 1,3522 dolar. Mata uang Inggris ini masih berada di bawah bayang-bayang hasil buruk Partai Buruh pimpinan Perdana Menteri Keir Starmer dalam serangkaian pemilihan dewan kota pekan lalu. Sementara itu, yen Jepang ikut melemah. Pasangan USD/JPY naik 0,2 persen menjadi 157,87, menunjukkan dolar AS masih perkasa di hadapan mata uang Negeri Matahari Terbit.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar