Kemenkes Temukan 23 Kasus Hantavirus di 9 Provinsi Sepanjang 2024–2026, Tiga Pasien Meninggal

- Selasa, 12 Mei 2026 | 10:46 WIB
Kemenkes Temukan 23 Kasus Hantavirus di 9 Provinsi Sepanjang 2024–2026, Tiga Pasien Meninggal

Penemuan puluhan kasus hantavirus di sejumlah wilayah Indonesia dalam tiga tahun terakhir mendorong pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit yang ditularkan melalui tikus ini. Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 23 kasus positif hantavirus terkonfirmasi sepanjang periode 2024 hingga 2026, dengan tiga pasien di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Kasus-kasus tersebut kini telah tersebar di sembilan provinsi, sementara dua kasus suspek terbaru di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif setelah pasien dinyatakan sembuh.

Hantavirus merupakan virus yang berasal dari hewan pengerat, terutama tikus liar, dan dapat menular ke manusia. Di Indonesia, mayoritas kasus yang ditemukan tergolong jenis seovirus yang umumnya menyebar melalui paparan kotoran maupun cairan tubuh tikus yang terinfeksi. Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi urin, feses, atau air liur tikus. Penyebaran juga dapat terjadi melalui debu di ruangan tertutup yang tercemar, kontak dengan permukaan yang terkontaminasi, hingga gigitan tikus, meskipun kasus gigitan lebih jarang terjadi.

Gejala awal hantavirus umumnya diawali dengan demam tinggi, nyeri otot, dan sakit kepala. Penderita juga dapat mengalami mual, muntah, hingga gangguan pernapasan. Pada kondisi tertentu, infeksi ini bisa berkembang menjadi lebih serius dan membahayakan nyawa. Meskipun gejala-gejala tersebut cukup umum, kewaspadaan tetap diperlukan karena bisa saja merupakan indikasi awal infeksi hantavirus.

Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan sejumlah imbauan kepada masyarakat untuk mencegah penyebaran penyakit ini. Langkah pertama yang ditekankan adalah menjaga kebersihan rumah dan lingkungan secara konsisten. Masyarakat juga diminta untuk menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya, karena hal tersebut menjadi salah satu jalur penularan utama.

Selain itu, penggunaan disinfektan saat membersihkan area yang berisiko tinggi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko penularan. Masyarakat diimbau untuk tidak membersihkan area tersebut dengan tangan kosong, melainkan menggunakan alat pelindung diri. Apabila sudah mengalami gejala setelah terpapar, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan harus segera dilakukan. Deteksi dini dinilai dapat meningkatkan potensi kesembuhan dan menekan risiko penularan lebih luas.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar