Pemerintah Inggris memanggil Duta Besar Tiongkok untuk London, Zheng Zeguang, pada Jumat pekan lalu, menyusul vonis bersalah terhadap tiga pria yang terbukti membantu layanan intelijen Hong Kong berdasarkan Undang-Undang Keamanan Nasional Inggris. Langkah diplomatik ini diambil sehari setelah persidangan berakhir, menandai eskalasi ketegangan antara kedua negara terkait aktivitas spionase yang dinilai melanggar kedaulatan.
Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris (FCDO) mengonfirmasi bahwa pemanggilan tersebut dilakukan atas instruksi langsung Menteri Luar Negeri. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Minggu, FCDO menegaskan bahwa pemerintah Inggris tidak akan menoleransi segala bentuk upaya negara asing untuk mengintimidasi, melecehkan, atau membahayakan individu dan komunitas di wilayahnya.
Dalam pertemuan dengan duta besar Tiongkok, pemerintah Inggris menyampaikan kecaman keras atas aktivitas yang dikaitkan dengan otoritas Hong Kong tersebut. Aktivitas spionase ini disebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan nilai-nilai demokrasi yang dijunjung tinggi Inggris.
“Kami akan terus menggunakan berbagai instrumen yang tersedia untuk melindungi keamanan kami dan meminta pertanggungjawaban Tiongkok atas tindakan yang merusak keselamatan serta nilai-nilai demokrasi kami,” ujar juru bicara FCDO.
Sementara itu, pemanggilan duta besar ini menjadi bagian dari rangkaian respons diplomatik Inggris terhadap dugaan campur tangan asing. Langkah serupa sebelumnya juga pernah dilakukan negara-negara Barat lain, termasuk Amerika Serikat, yang mengklaim mampu memperlambat ekspansi jaringan intelijen Tiongkok di berbagai belahan dunia.
Artikel Terkait
Kementerian Ekonomi Kreatif Dorong Musisi Lokal Tembus Pasar Global Lewat Platform Streaming
Pemerintah Pastikan Harga Gas Industri dan Listrik Tidak Naik Sepanjang 2026
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Didakwa Terima Suap Rp4,8 Miliar dan Gunakan 10 Nama Samaran
Qualcomm Targetkan Pendapatan Rp269 Triliun dari Bisnis Data Center pada 2029