AS Cegat Kapal ‘Armada Bayangan’ Iran di Laut Arab, Diplomasi dengan Pakistan Batal Total

- Minggu, 26 April 2026 | 07:45 WIB
AS Cegat Kapal ‘Armada Bayangan’ Iran di Laut Arab, Diplomasi dengan Pakistan Batal Total

IDXChannel Laut Arab, Sabtu (25/4/2026). Sebuah kapal yang masuk daftar hitam, namanya 'Sevan', dicegat oleh angkatan laut Amerika Serikat. Komando Pusat AS bilang ini bagian dari strategi pemerintahan Trump: memblokir ekspor energi Iran.

Helikopter diterbangkan dari kapal perusak rudal USS Pinckney (DDG 91) buat menghentikan kapal itu. Kini, 'Sevan' disebut patuh berbalik arah menuju Iran, masih dalam pengawalan. Begitu laporan dari Investing, Minggu (26/4/2026).

Menurut pernyataan resmi Komando Pusat, “M/V Sevan termasuk di antara 19 kapal 'armada bayangan' yang dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS.” Alasannya? Aktivitas pengangkutan produk energi Iran minyak, gas, propana, butana senilai miliaran dolar ke pasar luar negeri.

Di sisi lain, ada drama diplomatik yang tak kalah panas. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembatalan kunjungan utusan khusus ke Islamabad. Lewat unggahan di Truth Social, dia bilang AS pegang semua kartu. “Mereka tidak punya militer lagi, tidak punya pemimpin,” katanya pada wartawan. Lalu, kenapa utusan harus terbang 16–17 jam hanya untuk bertemu “pemimpin negara tersebut”?

Trump juga cerita soal dokumen. Katanya, mereka terima dokumen yang “seharusnya lebih baik.” Tapi dalam 10 menit setelah pembatalan, datang dokumen baru jauh lebih baik. Namun tetap saja, tawaran itu tidak cukup. “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir,” tegasnya.

Dua utusan AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, sedianya tiba di Pakistan akhir pekan itu. Misi mereka: mengakhiri konflik delapan minggu dengan Iran. Tapi batal total setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, lebih dulu meninggalkan Islamabad sebelum para utusan sempat datang.

Trump kembali menulis di Truth Social, nadanya geram:

“Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada perselisihan dan kebingungan yang luar biasa di dalam 'kepemimpinan' mereka. Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka sendiri. Kita memiliki semua kartu, mereka tidak punya satu pun! Jika mereka ingin berbicara, yang harus mereka lakukan hanyalah menelepon!!!”

Sebelum berangkat, Araqchi sempat bertemu pejabat Pakistan. Ia menyampaikan posisi negosiasi Teheran dan kekhawatiran atas tuntutan AS. Dalam unggahan Telegram, Araqchi bilang ia sudah menguraikan posisi Iran soal gencatan senjata dan pengakhiran perang secara penuh.

Seorang sumber diplomatik Iran menambahkan, “Pada prinsipnya, pihak Iran tidak akan menerima tuntutan maksimalis.”

Meski Araqchi sudah tiba di Islamabad sejak Jumat, Teheran secara terbuka meremehkan misi ini. Juru bicara kementerian luar negeri mengonfirmasi: tidak ada rencana pertemuan langsung dengan Amerika. Mereka hanya akan menyampaikan pengamatan lewat mediator Pakistan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar