WASHINGTON Presiden AS Donald Trump tiba-tiba membatalkan rencana pengiriman dua utusannya ke Pakistan akhir pekan ini. Padahal, misi mereka cukup krusial: menjajaki kemungkinan dialog dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Dua orang yang sedianya terbang ke Islamabad adalah utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner. Tapi, rencana itu batal total.
Araghchi sendiri sudah lebih dulu berada di Pakistan. Ia tiba pada Jumat (24/4/2026) dan langsung melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat setempat. Tapi, tidak ada pengumuman besar setelahnya. Keesokan harinya, Sabtu, ia sudah meninggalkan Pakistan dan melanjutkan perjalanan ke Oman serta Rusia.
Lalu kenapa Trump membatalkan misi itu?
Di hadapan wartawan di Florida, sebelum kembali ke Washington DC pada Sabtu (25/4/2026), Trump mengaku punya dua alasan. Pertama, pembicaraan di Islamabad dinilainya terlalu mahal. Kedua, tawaran kesepakatan damai yang baru untuk Iran ternyata belum cukup matang.
“Mereka juga menambah tuntutan baru setelah saya batalkan kunjungan delegasi kami,” ujar Trump.
Di sisi lain, lewat akun media sosialnya, Truth Social, Trump menulis sesuatu yang cukup menohok. Ia menyebut ada “pertikaian dan kebingungan yang luar biasa” di internal kepemimpinan Iran.
“Tidak ada yang tahu siapa yang bertanggung jawab, termasuk mereka sendiri. Selain itu, kita punya semua kartu, sementara mereka tidak punya satu pun! Kalau mereka benar-benar ingin bicara, yang harus dilakukan hanya menelepon,” tulisnya.
Nah, soal Araghchi, ia memang sempat bertemu Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan pejabat senior lainnya. Tapi menurut sejumlah saksi, tidak ada tanda-tanda terobosan berarti. Apalagi untuk membuka jalan menuju perundingan putaran kedua dengan AS.
Meski begitu, Araghchi menyebut kunjungannya ke Pakistan sangat bermanfaat. Namun, nada berbeda datang dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Dalam panggilan telepon dengan Sharif setelah pertemuan itu, ia menegaskan sikap keras Teheran.
Pezeshkian bilang, Iran tidak akan ikut negosiasi yang dipaksakan. Apalagi di bawah ancaman atau blokade AS.
“AS harus menghentikan hambatan operasional terlebih dulu. Termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran. Baru setelah itu kita bisa bicara soal landasan penyelesaian masalah,” tegasnya.
Jadi, untuk sekarang, pintu dialog antara Washington dan Teheran masih tertutup rapat. Atau setidaknya, belum ada yang berani membukanya.
Artikel Terkait
Pemerintah Tambah Kuota Magang Nasional 2026-2027 Usai 100.000 Peserta Terserap
Trump Dievakuasi dari Gedung Putih Usai Suara Tembakan, Presiden AS Pastikan Situasi Aman
Orang Tua Korban Kekerasan di Daycare Yogyakarta Datangi Polresta, Tuntut Keadilan
Polda Sumsel Amankan 82.000 Kiloliter Solar Ilegal di Perairan Banyuasin