Petugas Gabungan Tangkap 217 Kg Ikan Sapu-Sapu di Waduk Bojong dan Kali Pesanggrahan Jakarta Barat

- Sabtu, 25 April 2026 | 03:40 WIB
Petugas Gabungan Tangkap 217 Kg Ikan Sapu-Sapu di Waduk Bojong dan Kali Pesanggrahan Jakarta Barat

JAKARTA Puluhan petugas gabungan dari Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat bergerak cepat. Hasilnya? Mereka berhasil menangkap 217 kilogram ikan sapu-sapu di dua lokasi berbeda, yakni Waduk Bojong, Cengkareng, dan Kali Pesanggrahan, Kembangan. Operasi ini digelar pada Jumat, 24 April 2026.

Imron Syahrin, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setko Jakarta Barat, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA), Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP), Lingkungan Hidup, hingga petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU). Semua bergerak bareng.

“Kami juga sudah koordinasi dengan jajaran yang lagi bersih-bersih dan nguras saluran. Kalau nemu ikan sapu-sapu, langsung ditangkap,” ujarnya.

Menurut Imron, penangkapan ini bukan cuma sekali jalan. Rencananya, kegiatan serupa bakal dilakukan secara rutin. Setiap kali ada pembersihan dan pengurasan saluran air, petugas akan menyisir keberadaan ikan invasif ini. Harapannya, populasi ikan sapu-sapu bisa ditekan habis. Bahkan, sampai nol besar di Jakarta Barat.

Lantas, kenapa ikan ini dianggap musuh? Soalnya, ikan sapu-sapu punya kemampuan dominasi yang luar biasa di ekosistem baru. Spesies invasif ini terkenal cepat berkembang biak. Ditambah lagi, mereka bisa bertahan hidup di lingkungan yang sudah tercemar. Akibatnya, ikan lokal jadi terancam.

Di sisi lain, dampaknya juga sampai ke infrastruktur. Keberadaan ikan sapu-sapu yang tak terkendali bisa merusak turap dan tanggul sungai. Bayangkan, kalau populasinya meledak, biaya perbaikan bisa membengkak. Belum lagi soal kesehatan.

“Dikhawatirkan ikan sapu-sapu mengandung polutan. Kalau dikonsumsi, bahaya buat kesehatan,” tegas Imron.

Jadi, selain ancaman ekologis, ada kekhawatiran kalau ikan ini malah dimanfaatkan sebagai bahan pangan. Padahal, risikonya tidak main-main. Makanya, langkah pencegahan terus digencarkan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar