Organisasi Pemuda Katolik Kritik Respons Jusuf Kalla Soal Laporan Penistaan Agama

- Kamis, 23 April 2026 | 08:50 WIB
Organisasi Pemuda Katolik Kritik Respons Jusuf Kalla Soal Laporan Penistaan Agama

JAKARTA – Organisasi Pemuda Katolik akhirnya angkat bicara. Mereka merespons dua kali konferensi pers yang digelar Jusuf Kalla, mantan wakil presiden, pada 18 dan 21 April lalu. Dalam kesempatan itu, JK membantah keras dugaan penistaan agama yang melekat padanya usai memberi ceramah di Masjid UGM.

Lewat FX Sintua Widhiatmoko, Ketua Bidang Hukum mereka yang juga penasihat hukum pelapor, organisasi ini menyampaikan rasa hormat. Mereka mengakui kontribusi besar JK dalam upaya perdamaian, seperti di Poso dan Ambon. “Kami sangat menghormati kontribusi Bapak Jusuf Kalla,” ujarnya.

Namun begitu, rasa hormat itu tidak lantas membuat mereka tutup mata. Sintua mengingatkan, respons dari seorang tokoh bangsa seharusnya berada dalam koridor yang menyejukkan. Bukan malah memperluas polemik yang sudah ada.

“Sebagai tokoh bangsa, tokoh politik dan tokoh ekonomi, beliau juga diharapkan dapat memposisikan diri secara arif dan tidak emosional,” kata Sintua pada Kamis (23/4/2026).

Ia pun memberikan saran. Menurutnya, klarifikasi dari JK sebaiknya efektif dan efisien saja. “Tidak perlu berulang kali menggelar konferensi pers,” tegasnya.

Apalagi, lanjut Sintua, sampai membawa-bawa nama tokoh lain seperti mantan Presiden Joko Widodo. Atau terkesan menihilkan peran tokoh-tokoh lain dalam sejarah bangsa ini. Hal itu dinilainya justru bisa mengaburkan persoalan.

Di sisi lain, Sintua menegaskan bahwa pelaporan yang mereka lakukan bersama GAMKI dan beberapa ormas lain adalah murni langkah hukum. Ini berangkat dari kegaduhan di ruang publik, terutama media sosial, pasca-ceramah JK di UGM. Isinya memicu banyak tafsir dan perdebatan sengit.

“Laporan ini merupakan bagian dari mekanisme hukum yang sah,” tuturnya. Ia berharap semua pihak bisa menahan diri. Jangan dulu membangun opini berlebihan sebelum proses hukum memberikan kejelasan yang pasti.

Menurut Sintua, ada yang berlebihan dari ceramah JK waktu itu. Bisa dibilang "over talk".

“Menurut kami ada yang berlebihan. Setidaknya ada saksi sejarah juga yang menyampaikan situasinya tidak sepenuhnya persis seperti apa yang Pak JK ceritakan. Artinya ada lebih dari satu versi cerita,” paparnya.

Ia menyayangkan jika konferensi pers tadi justru memunculkan masalah baru. Yaitu dengan menyeret pihak-pihak lain yang sebenarnya di luar substansi awal. Alih-alih meredakan, hal ini malah bisa bikin situasi makin tidak fokus dan tidak efektif.

Pada akhirnya, Pemuda Katolik kembali menekankan satu hal: pentingnya menjaga ruang publik agar tetap sehat dan kondusif. “Semoga ada permintaan maaf dan klarifikasi yang efektif dari Pak JK,” harap Sintua. Dengan begitu, seluruh kegaduhan ini bisa diakhiri.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar