Maros Gelar Pelatihan Respons Cegah KLB Campak Usai 31 Anak Terkonfirmasi Positif

- Kamis, 23 April 2026 | 10:00 WIB
Maros Gelar Pelatihan Respons Cegah KLB Campak Usai 31 Anak Terkonfirmasi Positif

Kabupaten Maros sedang bersiap. Ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) campak bukan lagi sekadar wacana, dan respons cepat pun digelar. Puluhan tenaga kesehatan dari seluruh penjuru kabupaten berkumpul, mereka adalah ujung tombak dari 14 puskesmas yang bertugas di lapangan.

Pelatihan respons cepat ini digelar untuk mempertajam kemampuan petugas surveilans dan koordinator imunisasi. Tujuannya jelas: mendeteksi dan mengendalikan penyebaran campak sebelum meluas lebih jauh.

Ini adalah hasil kolaborasi Dinas Kesehatan setempat dengan UNICEF. Fokusnya pada penguatan kapasitas, dari deteksi dini hingga langkah penanganan yang konkret di lapangan.

Menurut Hasan Rahim, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Maros, pelatihan ini adalah jawaban langsung terhadap tren yang mengkhawatirkan. "Kasus campak masih ditemukan di beberapa wilayah," ujarnya. Itu sebabnya, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan menjadi sangat mendesak.

Dalam pelatihan, peserta tak hanya diberi teori. Mereka diajak mengurai akar masalah, menganalisis kasus per kasus. Misalnya, mengapa ada anak yang terpapar padahal sudah divaksin? Atau sebaliknya, kenapa ada yang belum mendapatkannya sama sekali sehingga akhirnya ikut tertular?

"Seperti kenapa terpapar padahal sudah divaksin dan ada juga yang harusnya sudah dapat vaksin tapi belum diberikan vaksinnya, sehingga dia ikut terpapar,"

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini, kata Hasan, krusial untuk menentukan langkah intervensi. Agar lebih tepat sasaran.

Di sisi lain, aspek teknis operasional juga mendapat perhatian serius. Mulai dari bagaimana vaksin didistribusikan dari provinsi hingga ke fasilitas kesehatan di tingkat desa. Yang tak kalah penting adalah menjaga sistem rantai dingin atau cold chain. Vaksin yang tidak tersimpan dalam suhu ideal bisa kehilangan efektivitasnya, dan itu berarti perlindungan yang sia-sia.

Namun begitu, semua infrastruktur dan pelatihan teknis akan kurang berarti tanpa peran aktif tenaga kesehatan di garda terdepan. Hasan menekankan, mereka punya tugas tambahan yang vital: mengedukasi.

"Nakes juga harus terus mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk melengkapi imunisasi anak mereka,"

Pendekatan persuasif kepada orang tua inilah yang disebutnya sebagai kunci. Mencegah penyakit seperti campak, yang sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi (PD3I), sangat bergantung pada kesadaran kolektif.

Data terbaru memperkuat urgensi ini. Sudah 31 anak di Maros yang terkonfirmasi positif campak. Angka itu nyata, dan kemungkinan bisa bertambah. Saat ini, tim masih aktif melakukan penelusuran untuk menemukan suspek lainnya. Semua demi satu tujuan: memutus mata rantai penularan secepat mungkin.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar