Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mengungkapkan adanya dugaan praktik monopoli dalam industri perfilman Indonesia. Menurutnya, terdapat indikasi integrasi vertikal dimana pihak tertentu menguasai rumah produksi film, sekaligus berperan sebagai importir film, dan memiliki jaringan bioskop sendiri.
Hal ini disampaikan Lamhot Sinaga dalam rapat kerja dengan Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya di Jakarta. Praktik ini dinilai tidak sehat bagi perkembangan industri film nasional karena dapat mematikan persaingan usaha.
"Ketika satu pihak memiliki bioskop, menjadi importir, dan punya rumah produksi, maka secara otomatis akan memprioritaskan film-filmnya sendiri untuk tayang di layar lebar," jelas Lamhot mengenai potensi konflik kepentingan dalam bisnis perfilman.
Artikel Terkait
Pendaftaran UTBK SNBT 2026 Ditutup Besok, Cek Daya Tampung Prodi di Portal SNPMB
Intel IRGC Tewas dalam Serangan, Puluhan Warga Sipil Termasuk Anak-anak Jadi Korban
Analis Peringatkan Kualitas Kredit Perbankan Terancam Imbas Konflik Minyak
Iran Eksekusi Mati Warga yang Dituduh Mata-Mata Israel dan AS