Di tengah hiruk-pikuk ketegangan geopolitik global yang membuat banyak negara khawatir, Indonesia justru menunjukkan sinyal yang berbeda. Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, minat investor asing terhadap Tanah Air ternyata tak juga surut. Bahkan, bisa dibilang tetap menggembirakan.
Hal ini ia sampaikan kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa lalu. "Walaupun itu juga sudah mengalami peningkatan yang sangat signifikan kalau saya boleh sampaikan,” ujarnya.
Rosan meyakinkan bahwa arus investasi yang masuk masih berjalan sesuai rencana. Ia pun menjabarkan data jangka panjang untuk memperkuat pernyataannya. Tren realisasi investasi nasional, katanya, terus menanjak. Ambil contoh, periode 2014–2024 lalu, total investasi terkumpul sekitar Rp9.100 triliun. Nah, untuk lima tahun ke depan (2025–2029), targetnya malah melonjak jadi lebih dari Rp13.000 triliun.
“Peningkatannya memang cukup signifikan, tapi alhamdulillah masih bisa tercapai target-target itu. Kita harapkan ini bisa terus terjaga investasi ini,” kata Rosan lagi.
Lalu, sektor apa yang paling diserbu modal? Rosan menyebut industri logam dasar, seperti smelter, masih jadi primadona. Diikuti oleh jasa lainnya, pertambangan, kawasan industri dan perumahan, plus transportasi, gudang, dan telekomunikasi. Capaian ini bukan cuma angka biasa. Ini menegaskan bahwa Indonesia tak cuma bisa menjaga stabilitas, tapi juga sedang mempercepat lompatan menuju ekonomi berbasis nilai tambah.
Nah, kalau lihat performa terkini, ceritanya juga positif. Rosan melaporkan realisasi investasi di kuartal pertama tahun 2026 sudah mencapai Rp498,79 triliun. Angka ini sedikit mengungguli target yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp497 triliun.
"Realisasi investasi di 2026 ini, tadi di kuartal pertama saya melaporkan bahwa alhamdulillah tercapai pencapaian Rp498,79 triliun atau 100,36 persen dari target. Dan itu adalah peningkatan 7,22 persen secara year on year-nya," jelasnya.
Yang menarik, komposisi investasi dalam dan luar negeri hampir berimbang. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menyumbang 49,89 persen, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) sedikit di atas, yaitu 50,02 persen. Realisasi sebesar itu juga berhasil membuka lapangan kerja untuk lebih dari 706 ribu orang.
Dari sisi penyebaran, investasi di luar Pulau Jawa masih unggul tipis dengan porsi 50,37 persen. Sementara Jawa mencatatkan 49,63 persen. Tapi kalau dirinci per provinsi, DKI Jakarta masih yang terbesar dengan kontribusi 15,76 persen. Posisi berikutnya diisi Jawa Barat, Banten, Jawa Timur, dan Jawa Tengah.
Lantas, dari mana saja modal asing itu berasal? Singapura masih duduk di posisi puncak dengan kontribusi USD4,6 miliar. Hong Kong menyusul di belakangnya (USD2,7 miliar), lalu China (USD2,2 miliar). Amerika Serikat dan Jepang menempati posisi keempat dan kelima, masing-masing dengan USD1,7 miliar dan USD1 miliar.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Dapat Apresiasi PM Australia Atas Ekspor Pupuk Urea 250 Ribu Ton
China Siapkan Rp1,4 Triliun untuk Bangun Industri Hilir Unggas di Aceh
Gencatan Senjata AS-Iran Diperpanjang atas Permintaan Pakistan, Blokade Tetap Berjalan
Iran Tegas: Tak Ada Perundingan dengan AS Selama Blokade Pelabuhan Berlanjut