Laporan dari Jakarta menunjukkan kondisi yang cukup berbeda dengan banyak negara. Di tengah ancaman krisis pangan global, Indonesia justru terlihat makin siap. Stok cadangan beras pemerintah, yang dikelola Bulog, bahkan disebut-sebut bakal segera menembus angka bersejarah: 5 juta ton.
Kabar ini disampaikan langsung oleh Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi tekanan berat. "Ada tiga krisis yang dihadapi dunia," ujarnya pada Selasa (21/4/2026).
"Krisis pangan, krisis energi, dan krisis air. Tiga ini harus mendapatkan solusi secepatnya."
Namun begitu, posisi Indonesia dinilai lebih baik. Terutama dalam menyongsong potensi dampak fenomena El Nino yang kali ini dijuluki 'Godzilla'. Amran tampak percaya diri. Pengalaman menghadapi El Nino pada 2015 dan 2023-2024 dianggap sebagai bekal berharga.
"El Nino kita sudah hitung. Kita sudah pengalaman. Sekarang kita sudah siapkan lebih awal. Jadi insya Allah aman," tegasnya.
Angkanya pun cukup mencengangkan. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) saat ini sudah mencapai 4,9 juta ton. Bayangkan, ini melonjak drastis hingga 221,7 persen dibandingkan persiapan menghadapi puncak El Nino sebelumnya. Kala itu, tepatnya September 2023, stok CBP hanya sekitar 1,52 juta ton.
Amran bahkan mengajak siapa pun yang meragukan data ini untuk mengecek langsung ke gudang Bulog. "Kepada seluruh masyarakat Indonesia, kami sampaikan hari ini stok CBP kita 4,9 juta ton," katanya.
"Insya Allah minggu depan, paling lambat Kamis atau Jumat, sudah 5 juta ton dan jadi yang tertinggi selama Republik Indonesia berdiri."
Pencapaian ini bukan datang tiba-tiba. Di baliknya ada upaya serius meningkatkan produksi dalam negeri. Hasilnya? Mulai tahun 2025, Indonesia resmi berhenti mengimpor beras. Laporan Rice Outlook April 2026 dari United States Department of Agriculture (USDA) pun membenarkan hal ini.
Indonesia disebut mengalami penurunan impor paling signifikan di antara 79 negara lainnya. Catatannya minus 3,8 juta ton untuk impor beras tahun 2025. Bandingkan dengan Filipina, yang justru menjadi pengimpor terbesar dunia dengan 3,6 juta ton tahun lalu. Atau Vietnam, yang meski eksportir aktif, masih perlu impor 3,5 juta ton.
"Pangan kita, alhamdulillah aman. Indonesia sudah swasembada beras. Kemudian protein juga kita swasembada. Ayam telur kita sudah ekspor," papar Amran dengan nada optimistis.
Dampak positifnya ternyata langsung terasa di lapangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Nilai Tukar Petani (NTP) Tanpa Perikanan secara nasional bertengger di atas angka 120 sejak Juli 2024. Bahkan, Desember 2025 dan Februari 2026 mencatatkan angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, yaitu 126,11.
Tak cuma itu. Indeks harga yang diterima petani padi juga konsisten berada di atas 130 poin sejak pertengahan tahun lalu. Pada Maret 2026 ini, indeksnya mencapai 144,52 masih lebih tinggi ketimbang periode sama tahun sebelumnya.
Jadi, meski awan krisis pangan menggantung di langit global, situasi di dalam negeri tampak lebih cerah. Setidaknya, untuk saat ini.
Artikel Terkait
Ekspor Teknologi Hijau China Melonjak di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Polisi Korea Selatan Ajukan Surat Penangkapan untuk Bang Si-Hyuk, Pendiri Hybe, Terkait Dugaan Penipuan Investor
Menteri Keuangan Lantik Pejabat Eselon I dan II dalam Rotasi Ketiga Tahun Ini
Tokoh Perdamaian Poso dan Ambon Dukung JK, Sepakat Lawan Fitnah Usai Ceramah UGM