Di tengarai ketegangan geopolitik yang memanas dan situasi global yang serba tak pasti, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru menyuarakan keyakinannya. Fundamental ekonomi Indonesia, tegasnya, masih sangat tangguh. Pernyataan ini ia sampaikan langsung dari Washington DC, di sela-sela rangkaian Pertemuan Musim Semi IMF dan Bank Dunia pertengahan April 2026.
Menurut Purbaya, ketahanan yang kita lihat sekarang bukanlah hasil dari kebijakan dadakan. Ini buah dari reformasi struktural yang sudah dijalankan secara konsisten bertahun-tahun. Dalam berbagai forum dengan investor global, ia berusaha meyakinkan bahwa fondasinya sudah kuat.
"Kita mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, dan meningkatkan sumber daya manusia dan efisiensi," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (20/4).
"Jadi ke depannya, pertumbuhan Indonesia tidak hanya akan stabil, tetapi juga akan lebih produktif dan berkelanjutan serta menjadi lebih terdiversifikasi dan tangguh."
Memang, tekanan dari luar tak bisa dianggap enteng. Konflik di Timur Tengah yang memicu krisis energi, misalnya, berpotensi menggoyah. Namun begitu, Purbaya memastikan APBN siap berperan sebagai penyangga atau shock absorber. Tujuannya jelas: melindungi daya beli masyarakat. Di sisi lain, komitmen menjaga disiplin fiskal juga tak kendor, dengan defisit yang dipatok tetap di bawah 3 persen dari PDB.
Ia mengakui ada arus keluar modal asing yang cukup signifikan, mencapai USD 1,8 miliar, yang turut mendepresiasi nilai rupiah. Tapi stabilitas makro secara keseluruhan dinilainya masih terjaga dengan baik.
"Kredibilitas ini memungkinkan Indonesia untuk menyerap harga energi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan dukungan bagi kelompok rentan atau melanggar batas defisit fiskal Indonesia," kata dia.
Lantas, bagaimana prospek ke depan? Purbaya ternyata cukup optimis. Target pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026 dinilainya sangat mungkin tercapai. Keyakinannya punya dasar. Konsumsi rumah tangga dalam negeri tetap kuat, menjadi motor utama. Belum lagi surplus perdagangan yang bertahan luar biasa, yakni selama 70 bulan berturut-turut hingga awal tahun ini.
Yang menarik, optimisme itu tidak hanya bertumpu pada sektor tradisional. Indonesia perlahan tapi pasti mulai menancapkan diri di peta ekonomi digital. Pada 2025 lalu, pertumbuhan tertinggi justru dicatat oleh sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), yang melesat 8,35 persen.
“Indonesia secara aktif terus memperkuat ekosistem AI nasional,” jelas Purbaya.
“Tujuannya agar peningkatan produktivitas bisa kita optimalkan di dalam negeri sendiri. Tentu kita tetap terbuka untuk kolaborasi global, sekaligus memposisikan Indonesia sebagai pengguna dan pengembang solusi berbasis AI.”
Pujian pun datang dari mitra internasional. Dalam pertemuan bilateral, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut Indonesia sebagai salah satu “bright spot” atau titik terang dalam ekonomi global. Alasannya, kebijakan yang kredibel dan fundamental yang kuat.
Sementara itu, dalam diskusi terpisah dengan Bank Dunia, Purbaya memaparkan langkah strategis menuju visi Indonesia Emas 2045. Pembahasan mencakup rencana penguatan UMKM lewat restrukturisasi lembaga kredit, serta fokus yang lebih serius pada transisi energi, khususnya panas bumi.
Agendanya di Washington DC memang padat. Selain bertemu dengan pimpinan lembaga keuangan dunia, Purbaya juga menjajaki kerja sama bilateral. Ia menemui Menteri Keuangan China, Lan Fo’an, untuk membahas pembiayaan infrastruktur. Tak ketinggalan, forum Joint Roundtable dengan sejumlah perusahaan AS juga digelar, dengan harapan bisa menarik lebih banyak investasi di sektor teknologi, energi, dan kesehatan.
Semua pertemuan itu, pada akhirnya, adalah upaya untuk menyampaikan satu pesan: ekonomi Indonesia tetap berdiri kokoh, dan peluang di sini masih terbuka lebar.
Artikel Terkait
Kapolri Instruksikan Satgas Haji 2026 untuk Jamin Keamanan Jamaah
DPR Gelar Rapat Finalisasi RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Stok Beras Bulog Tembus 5 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Menteri ESDM Buka Peluang Penyesuaian Harga BBM Nonsubsidi Lagi