Laporan keuangan Ericsson untuk kuartal pertama 2026 ternyata sedikit mengecewakan. Laba operasional yang disesuaikan perusahaan hanya mencapai 5,2 miliar krona Swedia, atau sekitar Rp9,7 triliun. Angka ini, jika dirunut, berada di bawah proyeksi para analis yang sebelumnya memperkirakan 5,4 miliar krona.
Menurut sejumlah saksi, ada dua faktor utama yang jadi biang kerok. Pertama, tren kecerdasan buatan yang melonjak justru memicu kenaikan biaya chip semikonduktor. Di sisi lain, penjualan di pasar kunci Amerika Utara terlihat melemah. Padahal, wilayah itu selama ini jadi tulang punggung bisnis mereka.
Sebagai raksasa peralatan jaringan telekomunikasi, Ericsson memang masih sangat bergantung pada Amerika Serikat. Apalagi setelah mereka mengantongi kontrak besar senilai USD14 miliar dengan AT&T di tahun 2023. Kontrak itu diharapkan bisa menopang bisnis saat investasi telekomunikasi di wilayah lain justru melambat.
Namun begitu, situasi politik transatlantik yang memanas di bawah pemerintahan Trump saat ini jelas menambah ketidakpastian. Eksposur yang besar itu ibarat pisau bermata dua.
CEO Ericsson, Borje Ekholm, secara terbuka mengakui tekanan biaya yang mereka hadapi.
"Kami menghadapi peningkatan biaya input, terutama dalam semikonduktor, yang sebagian disebabkan oleh permintaan AI," ujarnya dalam pernyataan resmi.
Tak cuma laba, penjualan bersih perusahaan pun ikut jeblok. Mereka hanya mencatatkan 49,3 miliar krona, sementara pasar mengharapkan angka yang lebih tinggi, yakni sekitar 50,7 miliar krona. Performa awal tahun ini, mau tak mau, membuat Ericsson harus memutar otak lebih keras untuk sisa tahun 2026.
Artikel Terkait
Pengemudi Fortuner Diamuk Massa di Tanah Abang, Polisi Dalami Dugaan Tabrak Lari
Perempuan 26 Tahun Tewas Jatuh dari Lantai 27 Apartemen di Cempaka Putih
KSPSI Desak Menteri ESDM Segera Atasi Lonjakan Harga Gas Industri, Ancaman PHK Massal Mengintai
WNI Tewas Ditikam Sesama WNI di Hokkaido, Polisi Jepang dan Satu Orang Lain Terluka