Nah, dari dalam negeri sendiri, sentimennya juga tak terlalu cerah. Ketidakpastian global yang makin menjadi-jadi membuat dunia usaha memilih untuk 'wait and see' atau menunggu dan melihat. Eskalasi konflik Timur Tengah dan mandeknya negosiasi AS-Iran jadi alasan utama. Ekspektasi kegiatan bisnis menurun, penjualan stagnan semua mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha dalam mengambil langkah ekspansi.
Namun begitu, bukan berarti ekspansi bisnis berhenti total. Yang terjadi lebih ke arah penyesuaian strategi. Pelaku usaha cenderung menahan dulu ekspansi besar-besaran yang butuh modal besar. Fokusnya sekarang lebih pada efisiensi dan optimalisasi operasional yang sudah berjalan. Aliran investasi pun mulai beralih ke sektor-sektor yang dianggap lebih tahan banting, seperti pangan, energi, dan digital.
Banyak faktor yang memengaruhi keputusan ini. Mulai dari ketidakpastian geopolitik global, harga energi dan logistik yang naik-turun, tekanan pada rupiah, permintaan global yang lesu, sampai biaya pinjaman yang masih relatif tinggi. Kombinasi semua itu membuat perhitungan risiko dan imbal hasil investasi jadi jauh lebih rumit.
Bagaimana dengan penjualan? Untuk jangka pendek, kinerjanya masih cenderung datar-datar saja. Tapi ada harapan membaik di semester kedua 2026, asalkan tidak ada eskalasi konflik global lagi. Konsumsi dalam negeri tetap jadi penopang utama, meski daya beli masyarakat harus benar-benar dijaga.
Jadi, apa yang dibutuhkan untuk mendorong ekspansi? Yang paling utama adalah kepastian dan stabilitas kebijakan. Pemerintah perlu konsisten, memberikan insentif fiskal yang tepat, mempermudah investasi, serta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Selain itu, percepatan belanja pemerintah dan deregulasi di sektor riil misalnya logistik dan perizinan dinilai sangat penting untuk memperkuat daya saing.
Berdasarkan analisis itu semua, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia memperkirakan mata uang kita berpotensi ditutup melemah dalam rentang yang cukup lebar, antara Rp17.120 hingga Rp17.170 per dolar AS.
(NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
Borneo FC Siap Hadapi Tujuh Laga Final untuk Kejar Persib di Puncak Klasemen
Gubernur DKI Pasang CCTV di Seluruh JPO untuk Tangkal Pencurian Besi
Gubernur DKI Pramono Anung Dukung Tindakan Tegas Atas Aksi Premanisme di Jakarta
Tiga Pelaku Balap Liar di Malaka Diamankan Patroli Gabungan Polisi