"Jadi mereka enggak ragu," tuturnya.
"Cuma mereka dengar ada noise bahwa fiskal kita bermasalah, mereka memastikan bahwa itu tidak benar."
Di sisi lain, ia mencatat sebuah pandangan menarik dari para investor. Mereka justru menilai fondasi makroekonomi Indonesia masih kokoh. Bahkan, ada kesan beberapa lembaga pemeringkat internasional dinilai terlalu terburu-buru memberikan outlook negatif, padahal data ekonomi terkini belum sepenuhnya lengkap.
"Investor beranggapan beberapa lembaga pemeringkat internasional terlalu cepat melakukan perubahan peringkat," ujar Purbaya.
Dari pertemuan itu, ia juga mendapat masukan berharga. Pemerintah Indonesia disarankan lebih proaktif membuka komunikasi dengan pelaku pasar global. Tujuannya, meminimalisir kesalahpahaman yang bisa merusak persepsi terhadap ekonomi nasional.
Lalu, apa kuncinya? Purbaya menitikberatkan pada momentum pertumbuhan. Menjaga pertumbuhan ekonomi sesuai target adalah kunci utama memenangkan kepercayaan. Pemerintah optimistis target 5,5 persen bisa dicapai, baik di triwulan pertama maupun kedua tahun ini.
"Kalau Indonesia bisa tumbuh 5,5 persen di triwulan I dan pada triwulan II tetap kuat," katanya penuh keyakinan.
"Ini akan serta merta membuat mereka lebih yakin untuk memperbesar investasinya di Indonesia."
Pertemuan di New York dan Washington DC itu mungkin hanya satu langkah kecil. Tapi dalam dunia investasi, kepercayaan adalah segalanya. Dan Purbaya tampaknya sedang berusaha membangunnya kembali, satu penjelasan demi satu penjelasan.
Artikel Terkait
Indonesia dan Rusia Jajaki Kerja Sama Pasokan Minyak Mentah dan LPG
Kemensos dan Inkanas Sepakat Masukkan Karate ke Ekstrakurikuler Sekolah Rakyat
Kejagung Pacu Lelang Kapal Tanker Iran MT Arman 114 di Batam
Kiswah Kabah Diangkat, Proses Perawatan Tahunan di Masjidil Haram Dimulai