Kerja sama resmi terjalin antara Kementerian Sosial dan Pengurus Besar Institut Karate-Do Nasional (Inkanas). Mereka sepakat memasukkan karate ke dalam daftar ekstrakurikuler di Sekolah Rakyat. Penandatanganan MoU dilakukan di Depok, Selasa (14/4), oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, bersama Ketua Umum PB Inkanas, Komjen Pol. Ramdani Hidayat.
Gus Ipul punya alasan kuat di balik pilihan karate ini. Menurutnya, seni bela diri ini bakal jadi sarana ampuh untuk membentuk karakter siswa Sekolah Rakyat. Sekolah berasrama ini memang khusus menampung anak-anak dari keluarga yang kurang mampu.
“Sebagaimana diketahui Sekolah Rakyat ini adalah sekolah berasrama yang siswa-siswanya berasal dari keluarga yang paling tidak mampu, di mana mereka dididik secara berkelanjutan selama 24 jam,” jelas Gus Ipul dalam keterangan tertulisnya.
Nah, selain belajar akademik dan agama, para siswa kini akan punya kegiatan baru. Mereka bakal diajari teknik bela diri.
“Secara khusus hari ini, kami ingin memberikan penguatan dengan memberikan kesempatan siswa Sekolah Rakyat bisa memperoleh pembelajaran seni bela diri, dalam hal ini adalah karate,” tambah Gus Ipul.
Harapannya sederhana tapi penting: lewat karate, anak-anak ini bisa tumbuh lebih percaya diri dan punya karakter kuat. Mereka diharapkan paham bagaimana harus bersikap ketika menghadapi situasi yang tak sesuai norma.
Di sisi lain, Ramdani Hidayat dari Inkanas menekankan satu hal. Program ini bukan cuma soal jurus dan tendangan. Etika adalah fondasi utamanya.
“Karena di kegiatan bela diri manapun, harusnya etika yang dikedepankan. Kalau etika dikedepankan, akan bisa menghormati sesamanya, baik kawannya, adik-adiknya, bahkan ke orang tuanya. Itu yang kita harapkan, yang kita siapkan,” tegas Ramdani.
Pelaksanaannya nanti akan melibatkan jaringan yang luas. Inkanas berencana berkoordinasi dengan pengurus daerah dan Dansat Brimob di seluruh Indonesia. Langkah ini diambil mengingat Sekolah Rakyat tersebar di 166 titik lokasi.
“Jadi kami tinggal menyampaikan edaran atau perintah kepada, khususnya pada Dansat Brimob seluruh Indonesia, untuk membantu bagaimana pendidikan karakter di Sekolah Rakyat ini bisa terus-menerus berjalan,” ungkapnya.
Soal perlengkapan? Tenang. Ramdani memastikan siswa tak perlu repot membeli seragam khusus karate. Itu hanya akan membebani.
“Menurut kami tidak perlu (seragam), karena itu membebani. Jadi mereka sudah punya pakaian olahraga, ya kita pakai pakaian olahraga saja. Yang penting tujuannya dan manfaatnya bisa tercapai,” ujarnya.
Menutup pembicaraan, Gus Ipul menyampaikan harapan besarnya. Ia ingin program ini benar-benar mencetak generasi yang tak hanya tangguh secara fisik, tapi juga kokoh karakternya.
“Intinya jadi generasi yang tangguh dan berkarakter. Berkarakter itu tadi disiplin, berprestasi, cinta tanah air, cinta orang tua, semuanya itu adalah generasi yang berkarakter. Yang berkarakter ini adalah modal menang di masa yang akan datang,” tutupnya.
Acara penandatanganan itu sendiri juga dihadiri sejumlah pejabat, seperti Sekretaris Jenderal Kemensos Robben Rico, Ketua Harian PB Inkanas Condro Kirono, dan Rektor Universitas Tulungagung (UNITA) Muharsono.
Artikel Terkait
Kemenkeu Bantah Hoaks Akun Palsu Mengatasnamakan Menteri Keuangan yang Tawarkan Dana Bantuan
Prabowo-Macron Resmikan Dewan Bisnis Indonesia-Prancis, Hasilkan Kesepakatan Rp61,25 Triliun
Rano Karno Dapat Izin Pakai Gedung Jasindo di Kota Tua untuk Percepat Revitalisasi
Menkeu Terbitkan Aturan Baru, Tarif Izin Akuntan Publik Asing Capai Rp10 Juta