Tapi semua opsi, katanya, tetap terbuka. Pernyataan itu jelas bukan tanpa tujuan. Ia ingin tekanan maksimal.
Di sisi lain, beberapa penasihatnya lebih condong ke strategi blokade. Mereka yakin mengepung kapal-kapal di Selat Hormuz bisa memaksa Teheran kembali bernegosiasi. Logikanya mirip dengan yang pernah diterapkan ke Venezuela dulu. Tapi apakah bakal efektif? Itu pertanyaan lain.
Namun begitu, pendekatan apa pun punya risikonya sendiri. Wilayah perairan itu rawan. Kapal-kapal Angkatan Laut AS yang beroperasi di dekat pesisir Iran sangat rentan jadi sasaran empuk entah itu drone atau rudal yang diluncurkan dari darat. Situasinya rumit dan berbahaya.
Jadi, apa yang akan dipilih Washington? Serangan langsung atau blokade bertahap? Keduanya sama-sama berisiko memicu eskalasi yang lebih luas. Dan untuk sekarang, tampaknya semua masih dalam pertimbangan yang sangat hati-hati.
Artikel Terkait
Timnas U-17 Indonesia Bantai Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF
Mendagri Tito Soroti Pengawasan Dana Otsus dan Keistimewaan, Sorot DIY Sebagai Model
Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,54%, Tapi Peringatkan Pelemahan Daya Beli
Pengguna Tri Dapat Tukar Poin Jadi Voucher Diskon Hotel Mister Aladin