Pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, soal perlunya koalisi permanen buat pemerintahan kini disorot. Menurut Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), usulan itu bukan sekadar saran biasa. Ia menilai itu sebagai serangan balik terhadap Ketum PKB, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin.
Latar belakangnya? Beberapa waktu lalu, Cak Imin mengajak tiga menteri untuk melakukan tobat nasuha pasca bencana di Sumatera. Bagi Adi, ajakan itu terdengar seperti ajakan berperang karena menyasar elite partai yang dinilai publik punya kontribusi pada kerusakan alam.
“Tapi karena ini kan yang ngomong adalah Muhaimin Iskandar, ya sebenarnya seperti ajakan perang,” ujar Adi dalam diskusi ‘Total Politik’ di ASA Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (6/12/2025).
“Yang disebut itu kan ketua umum partai atau elite yang dinilai punya kontribusi terkait kerusakan alam di Sumatera. Menteri ESDM, lingkungan hidup dan kehutanan. Nah, persoalan jadi berlarut-larut. Makanya Bahlil balas, ‘Cak Imin juga layak taubat nasuha’,” tambahnya.
Nah, di sisi lain, respons Bahlil tak berhenti di situ. Dalam pidato politiknya di puncak HUT ke-61 Golkar di Istora Senayan, Jumat (5/12), ia menyampaikan usulan formal ke Presiden Prabowo Subianto. Intinya: pemerintah butuh stabilitas, dan untuk itu perlu dibentuk koalisi permanen.
“Partai Golkar berpandangan, Bapak Presiden, bahwa pemerintahan yang kuat butuh stabilitas. Lewat mimbar terhormat ini, izinkan kami memberi saran: perlu dibuatkan koalisi permanen,” kata Bahlil di hadapan Prabowo dan Wapres Gibran Rakabuming Raka yang hadir dalam acara tersebut.
Bahlil tampaknya tak ingin ada partai dalam koalisi yang keluar-masuk seenaknya. “Jangan koalisi in-out, jangan koalisi di sana senang di sini senang di mana-mana hatiku senang,” ujarnya dengan gaya khasnya.
Kembali ke analisis Adi. Ia melihat usulan koalisi permanen itu sebagai pesan terselubung untuk Cak Imin. “Bagi saya itu serangan balik. Pesannya: jangan pernah ada orang yang dulunya rival, tidak mendukung, tapi sekarang seakan-akan paling punya jasa di pemerintahan hari ini,” ucap Adi.
Ia menyoroti fakta bahwa PKB dan Cak Imin bergabung ke pemerintahan Prabowo tidak dari awal, melainkan di tengah jalan. Sementara Golkar dan Bahlil, menurutnya, sudah dari pertama bersama Prabowo.
“Jadi koalisi permanen itu pesannya sebenarnya ke Cak Imin: jangan merasa paling dekat dengan Pak Prabowo, paling dukung pemerintah. Soalnya, PKB kan gabungnya belakangan,” pungkas Adi.
Artikel Terkait
Bakpao Gandum Binaan BRI, Yusnianti Raup Omzet Puluhan Juta dari Nol
KPK Geledah Tiga Lokasi di Bali untuk Dalami Kasus Pemerasan Izin Tinggal WNA yang Jerat Eks Wamen Imipas
Australia Kehilangan Status Bebas Flu Burung H5 Setelah Kasus Pertama Ditemukan pada Burung Liar
Kapolri Ziarah ke Makam Bung Karno di Blitar Jelang Hari Bhayangkara ke-80