Pendapat serupa datang dari Stefanus Asat Gusma, Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik. Baginya, konten ceramah itu memang meresahkan. Laporan ini adalah upaya untuk meredakan situasi.
"Jadi kami melaporkan malam ini supaya suasana segera terkontrol dan tidak meluas," tegas Gusma.
Harapannya sederhana namun tegas. Sebagai tokoh bangsa, Gusma berharap JK segera merespons. "Paling tidak memberikan pernyataan terbuka, meminta maaf, dan kemudian mengklarifikasi semuanya," tuturnya.
Dia juga menegaskan satu hal penting. Ajaran Kristen dan Katolik, menurutnya, sama sekali tidak mengenal kekerasan apalagi pembunuhan. Untuk meredam situasi, pihaknya akan berkoordinasi dengan jajaran organisasi di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, Sahat punya sudut pandang menarik. Pelaporan ini justru dilihatnya sebagai bentuk pengampunan dan upaya mencegah eskalasi. Bukannya memanas-manasi, langkah ini justru ingin mengalihkan pembicaraan dari cacian netizen ke ranah yang lebih prosedural.
"Justru karena kita mengampuni, kita tidak mau kemudian ini menjadi kegaduhan di media sosial. Karena bahkan kita lihat di media sosial, Pak Jusuf Kalla itu kemudian dicerca, dimaki oleh banyak netizen. Sehingga kita letakkan ini di ranah hukum," tutup Sahat.
Artikel Terkait
Putin Sambut Prabowo di Kremlin, Tekankan Kemitraan Strategis Indonesia-Rusia
Timnas U-17 Indonesia Bantai Timor Leste 4-0 di Pembuka Piala AFF
Mendagri Tito Soroti Pengawasan Dana Otsus dan Keistimewaan, Sorot DIY Sebagai Model
Ekonom UI Proyeksikan Pertumbuhan Kuartal I 2026 Capai 5,54%, Tapi Peringatkan Pelemahan Daya Beli