Cinta Segitiga Bocah SD Berujung Pengeroyolan di Halaman Masjid

- Selasa, 16 Desember 2025 | 18:24 WIB
Cinta Segitiga Bocah SD Berujung Pengeroyolan di Halaman Masjid

Lampung Geh, Pringsewu

Sebuah video yang memperlihatkan aksi kekerasan dua remaja putri kini viral di media sosial. Lokasinya? Tepat di halaman parkir Masjid As Saadah, Pekon Tanjung Rusia, Pardasuka. Dalam rekaman yang beredar itu, terlihat jelas seorang korban dipukuli dan dijambak rambutnya hingga terjatuh. Yang bikin miris, sejumlah pelajar lain justru menyaksikan kejadian itu, bukannya melerai.

Kapolsek Pardasuka, Iptu Bastari Supriyanto, membenarkan insiden tersebut. Menurutnya, peristiwa ini terjadi pada Senin siang, sekitar pukul tiga sore. "Yang terlibat dua pelajar SD berinisial MS dan FKI, sama-sama berusia 11 tahun," jelas Bastari. Keduanya ternyata warga Kecamatan Pardasuka juga.

Ceritanya berawal dari sebuah pesan singkat. MS-lah yang mengontak FKI dan mengajaknya bertemu. Padahal, mereka sebelumnya tak saling kenal.

"FKI datang ke lokasi bersama seorang temannya. Tapi alih-alih berbincang, yang terjadi malah penganiayaan. Aksi itu lalu terekam dan tersebar luas," kata Bastari.

Lantas, apa pemicunya? Ternyata urusan asmara remaja. Dari pendalaman polisi, MS diduga kesal karena baru saja diputuskan pacarnya. Dia menaruh curiga bahwa FKI punya hubungan khusus dengan sang mantan. Padahal, faktanya sama sekali tidak.

“Dari keterangan yang kami kumpulkan, korban (FKI) tidak ada hubungan apa-apa. Dia cuma saudara sepupu dari mantan pacar MS itu,” tegas Bastari.

Untungnya, situasi sudah mulai mereda. Pihak kepolisian telah berkoordinasi dengan keluarga kedua belah pihak dan perangkat desa. Mereka akhirnya sepakat untuk berdamai.

“Mediasi kami lakukan di rumah orang tua FKI, Senin malam sekitar pukul setengah sepuluh. Hasilnya, kedua keluarga memilih menyelesaikan ini secara kekeluargaan,” ucap Bastari.

Meski kasusnya sudah didamaikan, Bastari tetap menyampaikan imbauan keras. Dia mengingatkan, menyelesaikan masalah dengan kekerasan itu bukan jalan yang benar. Apalagi di usia mereka. Tindakan seperti itu tetap bisa berujung ranah hukum, sekalipun pelakunya masih di bawah umur.

“Anak-anak harus bisa mengendalikan emosi. Jangan gampang terpancing. Kekerasan cuma akan menambah masalah, merugikan diri sendiri dan orang lain,” pesannya.

Di sisi lain, Bastari juga menyoroti peran orang tua. Pengawasan terhadap pergaulan anak, baik di dunia nyata maupun di dunia maya, harus lebih ditingkatkan. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak adalah kunci utama.

“Luangkan waktu untuk benar-benar mendengarkan anak. Awali dengan percakapan, bukan penghakiman. Penggunaan media sosial juga perlu diawasi, sambil terus ditanamkan nilai-nilai saling menghargai,” tutupnya.

(Yul/Lua)

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler