Di sisi lain, Arbeloa sepenuhnya sadar bahwa timnya tak punya margin untuk error lagi. Ia menuntut anak asuhnya untuk memberikan segalanya, bahkan lebih dari seratus persen, di setiap sisa pertandingan.
“Untuk mengalahkan tim mana pun di liga, kami harus memberikan 200. Kami bukan tim yang bisa selalu menang dengan 90 (kemampuan),” ungkapnya.
Logikanya sederhana: selama masih ada peluang, sekecil apa pun, mereka harus bertarung. Itu sudah jadi janji pada fans dan identitas klub sebesar Madrid. “Jika kami harus kalah, kami tidak punya pilihan selain berjuang di setiap pertandingan, menampilkan yang terbaik. Ini Real Madrid. Jadi, sampai hari terakhir, kami harus berjuang,” tandas Arbeloa.
Namun begitu, jalan di depan tetap berat. Fokus tim segera beralih ke Liga Champions. Mereka harus membalikkan agregat 0-2 dari Bayern Munich di leg kedua perempatfinal. Tantangan berlapis ini benar-benar menguji mental dan kedalaman skuad Los Blancos.
Jadi, meski peluang di La Liga tampak samar, semangat di ruang ganti Madrid belum padam. Arbeloa dan anak-anak asuhnya memilih untuk terus maju, menanti keajaiban, sambil memastikan mereka tak menyerah dengan mudah.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Pencairan Bansos Triwulan II 2026, Tunggu Data BPS
Trump Perintahkan Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus USD100
Gus Ipul Imbau Kader NU Tenang dan Tak Terpengaruh Isu Jelang Muktamar 2026
Presiden Prabowo Bertolak ke Moskow untuk Pertemuan Strategis dengan Putin