Dengan langkah-langkah itu, diharapkan tekanan dari luar tidak sampai menggoyahkan fundamental ekonomi dalam negeri secara berlebihan. Mereka ingin mencegah dampak ekstrem.
Lalu, bagaimana dengan pemicu utamanya? Konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga komoditas dan pelemahan mata uang ini rupanya dilihat dari sudut lain. Menurut Destry, posisi Indonesia sebenarnya punya sisi kuat.
Kita ini negara eksportir komoditas. Nah, ketika harga energi dan pangan global naik, justru bisa mendatangkan tambahan pendapatan. Pendapatan itu nantinya bisa jadi penyeimbang, atau offset, bagi Rupiah yang sedang melemah.
“Dampak konflik Timur Tengah bersifat dua arah,” ucap Destry menjelaskan.
“Di mana kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut.”
Jadi, di balik awan gelap pelemahan Rupiah, otoritas moneter masih melihat adanya peluang untuk mengurangi dampak buruknya. Mereka berusaha tetap waspada, tapi juga tak mau terjebak dalam kepanikan.
Artikel Terkait
Kontrak Jual Beli Gas Blok Masela Ditargetkan Tandatangani Mei 2026
Gubernur DKI Akui Harga Plastik Sulit Dikendalikan, Berbeda dengan Komoditas Pokok
Anggaran PUPR Dipangkas Rp12,71 Triliun, Target Infrastruktur Tetap Dijalankan
Timnas Indonesia U-17 Umumkan Skuad 26 Pemain untuk Piala AFF 2026