"Dampaknya terhadap pasar perkantoran jadi lebih bersifat second-order effect, bukan dampak langsung," jelas Ferry.
Lalu, apa konsekuensi jangka panjangnya? Jika pola kerja hybrid makin normal dan meluas, yang akan terkena imbas sebenarnya adalah tingkat "penggunaan" ruang kantor, bukan tingkat "penyewaannya".
Bayangkan begini: sebuah perusahaan tetap menyewa satu lantai penuh, tapi pegawainya hanya datang ke kantor tiga atau empat hari seminggu. Ruang itu tetap disewa, tapi tidak lagi dipakai maksimal setiap hari. Inilah yang disebut penurunan utilisasi.
Ferry memaparkan potensi ke depannya.
"Dalam jangka panjang, penurunan utilisasi ini berpotensi mendorong efisiensi kebutuhan ruang. Pada akhirnya, hal itu bisa memengaruhi tingkat permintaan dan hunian," katanya.
Jadi, ceritanya bergeser. Saat ini, hunian gedung komersial masih aman. Tapi pola kerja kita yang berubah perlahan-lahan bisa mengubah cara perusahaan memandang kebutuhan ruang fisik mereka di masa datang. Itulah dampak riil yang perlu diwaspadai, meski datangnya belakangan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tandatangani Perpres Pembentukan Ditjen Pesantren
Empat Pekerja Tewas Diduga Keracunan Gas Saat Bersihkan Tangki Air di Jagakarsa
Iran Klaim Tembak Jatuh F-15E dan A-10 AS, Pentagon Bungkam
Trump Tolak Bahas Detail Operasi Penyelamatan Jet AS yang Ditembak Iran