“Sementara yang belum dirakit meningkat lebih tinggi, yaitu 84,74 persen secara tahunan.”
Fakta ini bukan sekadar angka statistik belaka. Ia seperti sinyal terang yang menunjukkan posisi strategis Indonesia dalam peta rantai pasok energi bersih global. Potensinya besar, dan momentum transisi energi dunia sepertinya membuka pintu lebar-lebar bagi Indonesia untuk berkontribusi lebih nyata.
Di sisi lain, performa positif ini juga memperkuat neraca perdagangan bilateral. Sepanjang Januari-Februari 2026, surplus perdagangan nonmigas Indonesia dengan AS tercatat paling tinggi dibandingkan mitra dagang lainnya, yakni USD 3,53 miliar.
Beberapa komoditas andalan yang menyumbang surplus besar antara lain mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) senilai USD 716,4 juta. Lalu ada alas kaki (HS 64) dengan kontribusi USD 446,9 juta, serta pakaian rajut beserta aksesorinya yang menyumbang USD 426,4 juta.
Jadi, meski awan ketidakpastian global masih menggantung, sektor ekspor kita ternyata masih bisa menemukan celah untuk tumbuh. Dan kali ini, mesin listrik dan panel surya menjadi pahlawannya.
Artikel Terkait
Menpar Akui Dampak Konflik Timur Tengah, Kerugian Pariwisata Capai Rp2,04 Triliun
Menpar Genjot Strategi Pivot Pasar Wisata Hadapi Tekanan Global
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas dalam Plastik, Pesan Tolong Dimakamkan Anakku Syalwa Tertempel
Pemerintah dan BUMN Bangun 800 Rusun di Senen dan Tanah Abang untuk Warga Bantaran Rel